💐📕ANTARA INFAQ DAN SHODAQOH

❓Pertanyaan:
Apa perbedaan infaq dengan shodaqoh? Apakah peruntukannya pun harus beda?

✅ Jawaban:
Infaq adalah penyebutan secara umum untuk harta yang dikeluarkan dari seseorang.

Shodaqoh adalah bagian dari infaq yang diperintahkan. Sehingga, bisa dikatakan bahwa lingkup infaq lebih luas dari shodaqoh.

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan:

الصدقة من الإنفاق المأمور به شرعاً

Shodaqoh adalah termasuk infaq yang diperintahkan secara syar’i (Majmu’ Fataawa war Rosaail (18/27)).

Infaq bisa berupa pemberian nafkah untuk anak istri, pembayaran zakat fitrah, pembayaran zakat maal, pelunasan uang untuk naik haji, bantuan pembangunan masjid, dan sebagainya, termasuk di dalamnya shodaqoh untuk fakir miskin. Bahkan termasuk infaq juga adalah pemberian hadiah kepada seseorang untuk merekatkan hubungan dan menguatkan perasaan cinta di antara keduanya. Termasuk infaq juga adalah pelunasan kewajiban-kewajiban, seperti pembayaran hutang, tagihan abonemen listrik, telpon, dan sebagainya yang memang harus dikeluarkan. Maka hadirkan niat karena Allah ketika kita membayar hal-hal rutin semacam itu, sebagai bentuk infaq yang memang diwajibkan. Karena jika tidak dibayar, kita termasuk orang yang berdosa, mendhalimi pihak lain dan tidak bersikap amanah.

Secara bahasa, infaq adalah pengeluaran harta. Bisa untuk kebaikan, bisa juga untuk keburukan.

Jika orang-orang beriman menginfaqkan hartanya di jalan Allah (untuk hal-hal yang diridhai Allah), sebaliknya orang-orang kafir menginfaqkan hartanya untuk menghalangi manusia dari Jalan Allah:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir menginfaqkan hartanya untuk menghalangi dari Jalan Allah. Maka mereka menginfaqkan (hartanya) kemudian akan menjadi penyesalan bagi mereka kemudian mereka dikalahkan. Dan orang-orang kafir akan digiring menuju Jahannam (Q.S al-Anfaal:36).

Jika seseorang memiliki orangtua yang masih hidup dan membutuhkan bantuannya, maka berinfaq kepada mereka adalah salah satu hal yang sangat diperintahkan.

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Mereka bertanya kepadamu tentang (kepada siapa) diinfaqkan (harta)? Katakanlah: Apa yang kalian infaqkan dari harta adalah untuk kedua orangtua, kerabat dekat, anak yatim, orang-orang miskin, Ibnussabil (orang yang dalam perjalanan kehabisan bekal). Apa saja kebaikan yang kalian perbuat, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui (Q.S al-Baqoroh:215).
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan:

فأولى الناس به وأحقهم بالتقديم، أعظمهم حقا عليك، وهم الوالدان الواجب برهما، والمحرم عقوقهما، ومن أعظم برهما، النفقة عليهما، ومن أعظم العقوق، ترك الإنفاق عليهما، ولهذا كانت النفقة عليهما واجبة، على الولد الموسر...

Maka manusia yang paling berhak untuk didahulukan, dan haknya paling besar terhadapmu, adalah kedua orangtua yang wajib untuk berbuat baik kepada keduanya. Haram durhaka kepada keduanya. Di antara perbuatan baik yang terbesar terhadap keduanya adalah memberikan nafkah kepada keduanya. Dan di antara kedurhakaan yang terbesar adalah tidak memberikan nafkah kepada keduanya. Karena itu, nafkah kepada keduanya adalah wajib bagi anak yang memiliki kelapangan…(Tafsir as-Sa’di).

📌 Berapa banyak kadar infaq yang diberikan?

Dijelaskan dalam al-Quran bahwa infaq itu diberikan setelah terpenuhi pelunasan kewajiban-kewajiban atau kebutuhan-kebutuhan kita, atau yang diistilahkan dengan al-‘Afw.

...وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Dan mereka bertanya kepadamu tentang (berapa kadar) yang diinfaqkan? Katakanlah: al-Afw. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada kalian agar kalian berfikir (Q.S al-Baqoroh:219).

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menyatakan makna al-Afw:

ما يفضل عن أهلك

Sesuatu yang melebihi (kebutuhan) keluargamu (Tafsir Ibn Katsir (1/579)).

Demikian juga pernyataan semakna yang diriwayatkan dari Sahabat Ibnu Umar.

Artinya, infaq yang bersifat sunnah diberikan setelah infaq yang wajib ditunaikan. Kadarnya tidak berlebihan banyaknya juga tidak terlalu sedikit sehingga tidak bisa memberi manfaat.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا 

Yaitu orang-orang yang jika berinfaq tidak berlebihan dan tidak kikir (kurang), dan bersikap (tengah) di antara itu (Q.S al-Furqon ayat 67).

Jangan sampai seseorang banyak memberi/berinfaq, tapi kemudian hartanya habis hingga untuk memenuhi kebutuhannya sendiri ia harus meminta pada orang lain atau berhutang. Itu tidak sesuai dengan bimbingan dalam al-Quran.

Zakat dan shodaqoh adalah bagian dari infaq. Istilah zakat lebih banyak untuk yang bersifat wajib, sedangkan shodaqoh lebih sering untuk yang sunnah (tidak wajib).

Kadangkala penyebutan shodaqoh dimaksudkan artinya adalah zakat wajib. Seperti dalam surat atTaubah ayat 60. Disebut kata shodaqoot, namun maknanya adalah zakat maal (harta). Ayat itu menjelaskan pihak-pihak yang bisa menjadi sasaran zakat harta yaitu: fakir, miskin, amil, muallaf, budak, orang terbelit hutang, fii sabilillah, Ibnussabil.

Akan tetapi yang lebih sering adalah penggunaan istilah shodaqoh untuk pemberian yang bersifat sunnah, dilandasi perasaan belas kasih, terhadap pihak yang kekurangan.
 

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom