💐📝APAKAH ABRAHAH ORANG YANG BERIMAN?

❓Pertanyaan:

Apa betul pernyataan yang menyatakan bahwa Abrahah dan pasukan gajahnya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah karena mereka di saat itu memeluk agaman Nashrani? Walaupun begitu Allah binasakan mereka untuk menunjukkan pembelaan Allah kepada baitNya walaupun di bawah kekuasaan musyrikin dan sebagai pendahuluan dari keajaiban-keajaiban Rasulullah shollallahu alaihi wasallam

✅ Jawaban:

Para Ulama’ tarikh (sejarah) memang banyak yang menjelaskan bahwa Abrahah beragama Nashrani. Lalu, apakah setiap orang yang beragama Nashrani sebelum diutusnya Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam pasti beriman dengan keimanan yang benar?

Jika kita kaji dalil-dalil dalam al-Quran dan hadits dengan pemahaman para Ulama, kita akan dapati bahwa Ahlul Kitab di masa-masa menjelang di utusnya Nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam mayoritas sudah menyimpang, dengan menambah-nambah dan mengubah ajaran Nabinya. Hanya sedikit sekali yang tersisa masih istiqomah mengikuti ajaran Nabi sebelumnya.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلَّا بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ

Dan sesungguhnya Allah melihat kepada penduduk bumi, kemudian Allah murka kepada mereka baik bangsa Arab ataupun ‘Ajam, kecuali (sedikit) tersisa dari (sebagian) Ahlul Kitab (H.R Muslim)

Al-Imam atThohawy rahimahullah menjelaskan bahwa “(sedikit) yang tersisa dari kalangan Ahlul Kitab” itu adalah orang-orang yang masih mengikuti ajaran Nabi Isa tanpa ditambah dan diubah (disarikan dari Syarh Musykilil Atsar litthohaawy (5/228)).

Sedangkan al-Mulaa Ali al-Qoriy rahimahullah juga menukil pendapat sebagian Ulama bahwa itu adalah Yahudi dan Nashara yang berlepas diri dari kesyirikan. Walaupun beliau kemudian lebih merajihkan pendapat bahwa yang dimaksud itu adalah kaum yang tetap mengikuti ajaran Nabi Isa hingga saat datangnya risalah yang dibawa Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam, kemudian mereka beriman dengan Nabi terakhir tersebut (disarikan dari Mirqootul Mafatiih syarh Misykaatil Mashoobiih (15/314))

Beberapa contoh “baqooya min Ahlil Kitab” ini dijelaskan oleh sebagian Ulama adalah Waraqah bin Naufal yang sebelumnya adalah seorang Nashrani.

Kita tidak bisa menyatakan bahwa Abrahah adalah seorang beriman jika tidak ada Salaf kita dalam hal itu. Tidak ada hadits Nabi yang menyatakan demikian. Tidak ada Sahabat atau Ulama setelahnya yang menyatakan bahwa Abrahah adalah orang beriman. Jika kita tidak mendapati keterangan yang shahih bahwa Abrahah adalah beriman, maka kita tidak bisa menyatakan ia sebagai orang beriman. Kita hanya bisa menyatakan bahwa ia Nashrani sebagaimana penjelasan Ulama Tarikh. Dan kita tahu bahwa mayoritas Nashrani pada waktu itu sudah banyak yang merubah ajaran Nabi Isa.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa keadaan Abrahah dan bala tentaranya itu “lebih dekat keadaannya” dibandingkan keadaan kaum musyrikin Quraisy waktu itu. Sekedar untuk menunjukkan bahwa keadaan Abrahah dan bala tentaranya itu “lebih mending” atau “lebih ringan penyimpangannya” dibandingkan musyrikin Quraisy penyembah berhala. Beliau tidak menegaskan bahwa Abrahah beriman.

Seakan-akan Allah mengajak berfikir bangsa Arab pada waktu itu bahwa dibinasakannya pasukan bergajah tersebut, bukan menunjukkan kemulyaan bangsa Arab waktu itu. Bukan karena bangsa Arab di atas kebenaran sedangkan pasukan bergajah itu di atas kebatilan. Bukan karena bangsa Arab lebih mulya kedudukannya di sisi Allah dibandingkan para pasukan bergajah itu. Tapi Allah mempersiapkan datangnya Rasul terakhir yang diutus yang harusnya kalian beriman kepadanya.

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan:

وكانوا قوما نصارى، وكان دينهم إذ ذاك أقرب حالا مما كان عليه قريش من عبادة الأوثان. ولكن كان هذا من باب الإرهاص والتوطئة لمبعث رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإنه في ذلك العام ولد على أشهر الأقوال، ولسان حال القدر يقول: لم ننصركم -يا معشر قريش-على الحبشة لخيريتكم عليهم، ولكن صيانة للبيت العتيق الذي سنشرفه ونعظمه ونوقره ببعثة النبي الأمي محمد، صلوات الله وسلامه عليه خاتم الأنبياء

Mereka (pasukan bergajah) itu adalah kaum Nashara. Agama mereka pada waktu itu lebih dekat keadaannya dibandingkan Quraisy para penyembah berhala. Akan tetapi hal tersebut dalam rangka mendirikan (pondasi) dan pijakan (pendahuluan) bagi diutusnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Karena pada tahun itu beliau dilahirkan, menurut pendapat yang paling masyhur. Lisan hal –seakan-akan- menyatakan: Kami tidak menolong kalian wahai kaum Quraisy terhadap pasukan Habasyah karena keadaan kalian lebih baik dibandingkan mereka. Akan tetapi sebagai bentuk penjagaan terhadap Baitul ‘Atiiq (Ka’bah) yang Kami akan mulyakan dan agungkan dengan diutusnya Nabi al-Ummi Muhammad sholaawatullahu wa salaamuhu alaih sebagai penutup para Nabi (Tafsir Ibn Katsir ayat pertama surat al-Fiil).

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa penjagaan Allah terhadap Ka’bah pada waktu itu adalah karena hikmah yang besar. Pada saat itu, saat datangnya pasukan bergajah, Allah jaga Ka’bah. Namun di akhir zaman, Allah akan takdirkan adanya pihak yang menghancurkan Ka’bah, dan Allah biarkan itu terjadi, saat kaum muslimin sudah tidak memulyakan Ka’bah sebagaimana mestinya dan justru bergelimang dengan kemaksiatan.

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan:

وإنما حمى الله عز وجل الكعبة عن هذا الفيل مع أنه في آخر الزمان سوف يُسلط عليها رجل من الحبشة يهدمها حجراً حجراً حتى تتساوى بالأرض لأن قصة أصحاب الفيل مقدمة لبعثة الرسول محمد صلى الله عليه وعلى آله وسلم التي يكون فيها تعظيم البيت. أما في آخر الزمان فإن أهل البيت إذا أهانوه وأرادوا فيه بإلحاد بظلم، ولم يعرفوا قدره حينئذ يسلط الله عليهم من يهدمه حتى لا يبقى على وجه الأرض، ولهذا يجب على أهل مكة خاصة أن يحترزوا من المعاصي والذنوب والكبائر، لئلا يُهينوا الكعبة فيذلهم الله عز وجل. نسأل الله تعالى أن يحمي ديننا وبيته الحرام من كيد كل كائد، إنه على كل شيء قدير

Allah Azza Wa Jalla melindungi Ka’bah dari (pasukan) gajah ini padahal di akhir zaman Allah akan kuasakan seorang laki-laki dari Habasyah yang akan menghancurkan Ka’bah tanpa tersisa hingga rata dengan tanah. Karena kisah Ashaabul Fiil ini sebagai pembukaan terhadap diutusnya Rasul Muhammad shollallahu alaihi wa ‘alaa Aalihi wasallam yang merupakan pengagungan terhadap al-Bayt (Ka’bah). Adapun di akhir zaman, sesungguhnya Ahlul bayt (penduduk Makkah) ketika menghinakannya dan berbuat ilhad dengan kedzhaliman, tidak mengetahui kadar (kemulyaannya) pada saat itu Allah kuasakan terhadap mereka pihak yang menghancurkan (Ka’bah) hingga tidak tersisa lagi di muka bumi. Karena itu wajib bagi penduduk Makkah secara khusus untuk menjaga diri dari kemaksiatan, dosa-dosa, dan dosa-dosa besar. Agar mereka tidak menghinakan Ka’bah sehingga Allah Azza Wa Jalla menghinakan mereka. Kami meminta kepada Allah Ta’ala untuk melindungi agama kita dan rumahNya al-Haram dari tipu daya dari setiap pihak yang akan melakukan tipu daya. Sesungguhnya Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu (Tafsir libni Utsaimin pada surat al-Fiil)

Apa yang disampaikan oleh Syaikh Ibn Utsaimin tersebut seperti termaktub dalam hadits Shahih al-Bukhari dan Muslim:

يُخَرِّبُ الْكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنْ الْحَبَشَةِ

Akan menghancurkan Ka’bah seorang yang memiliki dua paha kecil dari Habasyah (H.R al-Bukhari dan Muslim)
Wallaahu A’lam

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I’tishom