📕💐 APAKAH ISTIDRAJ KHUSUS UNTUK ORANG KAFIR

Pertanyaan di group al-I’tishom sebelumnya:

❓Apakah istidraj itu khusus untuk orang-orang kafir atau orang mukmin juga bisa terkena istidraj?

✅ Jawaban:

Istidraj juga bisa menimpa seorang mukmin.

Makna istidraj menurut para Ulama adalah:

Seseorang diturunkan setahap demi setahap hingga sampai level keburukan yang diinginkan Allah terhadapnya, bagaikan seseorang yang turun dari anak tangga setahap demi setahap, hingga ketika ia sudah demikian jauh Allah lipatgandakan adzab baginya karena ia semakin jauh dari rahmat Allah tanpa ia sadari (disarikan dari nukilan penjelasan Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithiy dalam al-‘Adzbul Muniir min Majaalisisy Syinqithy fit tafsiir, al-Jurjaniy dalam atTa’rifaat, dan al-Mulaa Ali al-Qoori dalam al-Mirqah).

Jika seorang banyak berbuat kemaksiatan atau hal-hal yang dimurkai Allah (kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan), tapi semakin berlimpah kesuksesan duniawinya, maka itu adalah istidraj. Terlihat seolah-olah ia mendapat kebaikan, padahal justru keburukan akan bertumpuk padanya tanpa ia sadar.

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ لَهُ مِنْهُ اسْتِدْرَاج

Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba apa yang disukainya, dalam keadaan ia terus menerus berbuat kemaksiatan, sesungguhnya itu adalah istidraj dari Allah untuk orang tersebut (H.R Ahmad, atThobarony, al-Baihaqy, dinyatakan sanadnya hasan oleh al-Iraqy dan dishahihkan al-Albany)

Ada sebuah ungkapan dan nasehat indah dari Abdullah bin al-Mubarok (Ibnul Mubarok). Beliau adalah salah satu Atbaaut Tabiin, salah seorang guru al-Imam al-Bukhari. Beliau menyatakan:

إِنَّ الْبُصَرَاءَ لا يَأْمَنُونَ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : ذَنْبٍ قَدْ مَضَى لا يَدْرِي مَا يَصْنَعُ الرَّبُّ فِيهِ ، وَعُمْرٍ قَدْ بَقِيَ لا يَدْرِي مَاذَا فِيهِ مِنَ الْهَلَكَاتِ ، وَفَضْلٍ قَدْ أُعْطِيَ لَعَلَّهُ مَكْرٌ وَاسْتِدْرَاجٌ وَضَلالَةٌ وَقَدْ زُيِّنَتْ لَهُ فَيَرَاهَا هُدًى ، وَمَنْ زَيَّغَ الْقَلْبَ سَاعَةً سَاعَةً أَسْرَعَ مِنْ طَرْفَةِ عَيْنٍ قَدْ يُسْلَبُ دِينُهُ وَهُوَ لا يَشْعُرُ

Sesungguhnya orang-orang yang pandangannya tajam tidak akan merasa aman dari 4 keadaan:

(1) Dosa yang telah lalu, ia tidak tahu apa yang diperbuat Allah terhadapnya (apakah diampuni atau tidak, pent).

(2) Umur yang tersisa, tidak diketahui apakah di dalamnya terdapat hal-hal yang membinasakan

(3) Keutamaan yang diberikan (Allah kepadanya), ia tidak tahu mungkin itu adalah makar dari Allah dan istidraj dariNya. Mungkin juga itu adalah kesesatan yang telah diperindah untuknya sehingga ia menyangka itu adalah petunjuk.

(4) Siapakah yang menyimpangkan hati sesaat demi sesaat, yang lebih cepat dari kerdipan mata. Kadangkala agamanya terlepas darinya dalam keadaan ia tidak sadar.

(riwayat al-Baihaqy dalam Syuabul Iman, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, dan dinukil adz-Dzahaby dalam Siyar A’laamin Nubalaa’)

Sebuah nasehat yang sangat berharga dari seorang ‘alim yang dikenal zuhud, pejuang Islam (berjihad), berakhlak mulya, ahli ibadah, dan ahlul hadits. Menunjukkan bahwa seorang yang beriman hendaknya selalu khawatir akan makar dari Allah dan istidraj dariNya.

Salah satu bentuk istidraj adalah: saat orang tenggelam bersama Ahlul Bid’ah dan orang-orang yang sesat tapi ia menyangka sedang di atas Sunnah. Ia menyangka ia berada di atas al-haq, karena ketika bersama teman-temannya itu ia merasa ia lebih dekat kepada Allah, teman-temannya banyak yang akhlaknya baik, tidak pernah berbicara tentang keburukan orang lain, hanya menyuruh pada kebaikan, mengajak orang untuk dekat ke masjid, dan sebagainya. Maka ia merasa tentram dalam keadaan demikian. Ia turuti perasaannya bahwa inilah yang benar, inilah yang haq. Ia tutup telinga atas nasehat para Ulama bahwa mereka menyimpang. Meski telah dikemukakan sekian dalil kepadanya, tapi ia lebih memperturutkan perasaannya: “ Bagaimana mungkin mereka sesat, mereka orang yang baik. Justru kalian akhlaknya buruk tidak sebaik mereka. Selalu menyalahkan orang lain. Seakan-akan tidak ada yang benar kecuali dirinya sendiri”. Dan perasaan-perasaan lain yang semakna dengan itu yang tumbuh di hatinya, meski tidak diungkapkannya melalui ucapan.

Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan taufiq kepada kita untuk berilmu, beramal, dan berdakwah di atas Sunnah, dan meninggal di atas Sunnah.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom