🔰📗 APAKAH MENYENTUH KEMALUAN MEMBATALKAN WUDHU?

Ada 2 macam hadits yang menjadi pembahasan terkait masalah ini adalah:

1⃣Pertama, Hadits yang memerintahkan untuk berwudhu jika menyentuh kemaluan.

Hadits Busroh bintu Shofwan:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya, hendaknya ia berwudhu’ (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan atTirmidzi, Ibnu Hibban)

Hadits Abu Hurairah:

إِذَا أَفْضَى أَحَدُكُمْ بِيَدِهِ إِلَى فَرْجِهِ، وَلَيْسَ بَيْنَهُمَا سِتْرٌ وَلَا حِجَابٌ، فَلْيَتَوَضَّأْ

Jika salah seorang dari kalian tangannya mencapai (menyentuh) kemaluannya dan tidak ada pembatas atau penghalang, maka hendaknya berwudhu (H.R atThobaroniy, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albaniy)

2⃣Kedua, hadits yang menyatakan bahwa kemaluan hanyalah bagian dari anggota tubuh kita.

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجْنَا وَفْدًا حَتَّى قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ وَصَلَّيْنَا مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ جَاءَ رَجُلٌ كَأَنَّهُ بَدَوِيٌّ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا تَرَى فِي رَجُلٍ مَسَّ ذَكَرَهُ فِي الصَّلَاةِ قَالَ وَهَلْ هُوَ إِلَّا مُضْغَةٌ مِنْكَ أَوْ بَضْعَةٌ مِنْكَ

Dari Qoys bin Tholq bin ‘Ali dari ayahnya beliau berkata: Kami keluar sebagai utusan mendatangi Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, kemudian kami membaiat beliau dan sholat bersama beliau. Ketika telah selesai sholat, datang seorang laki-laki, sepertinya ia Badui (dari pedalaman). Ia berkata: Wahai Rasulullah, apa pendapat anda tentang seorang laki-laki yang menyentuh kemaluannya dalam sholat? Nabi menyatakan: Bukankah kemaluan itu hanyalah timbunan daging darimu atau bagian darimu (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albaniy).

Ali bin al-Madiniy rahimahullah menyatakan bahwa hadits ini lebih baik dari hadits Busroh (Bulughul Maram karya al-Hafidz Ibnu Hajar). Ali bin al-Madiniy adalah salah seorang guru al-Imam al-Bukhari, bahkan karena sangat berwibawa keilmuan Ali al-Madiniy, al-Bukhari menyatakan: Aku tidak pernah merasa kecil di hadapan seseorang, kecuali jika berhadapan dengan Ali bin al-Madiniy.

📌Perbedaan Pendapat dari Para Sahabat Nabi

Pendapat bahwa menyentuh kemaluan membatalkan wudhu diriwayatkan dari beberapa Sahabat : Umar bin al-Khoththob, Ibnu Umar, Aisyah, Abu Ayyub al-Anshory, Abu Hurairah, Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash, Jabir, Ummu Habibah, Busroh bintu Shofwan.

Pendapat bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu diriwayatkan dari beberapa Sahabat: Ali bin Abi Tholib, Hudzaifah bin al-Yaman, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ammar bin Yasir, Abud Darda’, Imron bin Hushain, Abu Umamah.

📌Bagaimana Menyikapi Kedua Hadits Nabi Di Atas?

Kedua macam hadits Nabi di atas sekilas nampak bertentangan. Yang satu memerintahkan berwudhu, yang satunya lagi menyatakan bahwa kemaluan adalah bagian dari tubuh kita (artinya ia sama dengan anggota tubuh yang lain seperti hidung, kepala, dan semisalnya yang jika disentuh tidak membatalkan wudhu).

Seandainya salah satu macam hadits adalah shahih dan yang lain dhaif, tentunya kita akan berdalil hanya dengan yang shahih saja. Namun, ternyata kedua macam hadits tersebut sama-sama shahih.

Seandainya ada indikasi (qorinah) yang tegas dan jelas tentang tarikh (waktu) kapan masing-masing hadits itu disampaikan sehingga diketahui hadits ini lebih dahulu dari hadits itu dan juga ada indikasi yang tegas bahwa macam hadits yang satu menghapus hukum hadits yang lain, maka bisa saja kita berpendapat bahwa salah satu hadits telah terhapus hukumnya oleh hadits yang lain. Namun, indikasi-indikasi tersebut tidak terlihat secara tegas dan jelas.

Maka sebagian Ulama mengkompromikan hadits tersebut. Sikap inilah yang lebih tepat, yaitu mengkompromikan hadits, tidak menolak sebagian dan menolak sebagian. Semua macam hadits tersebut diamalkan sesuai kondisinya masing-masing.

📌Bagaimana para Ulama mengkompromikan hadits tersebut?

Ada 2 jenis penggabungan/ kompromi terhadap hadits-hadits itu:

1⃣Pertama, hadits yang memerintahkan untuk berwudhu’ jika menyentuh kemaluan adalah perintah yang sifatnya sunnah (mustahab) bukan sesuatu yang wajib. Hal yang menunjukkan bahwa perintah itu adalah sekedar mustahab, adalah bahwa dalam hadits lain Nabi menyatakan kalau kemaluan adalah bagian dari anggota tubuh kita.

Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Ibn Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’

2⃣Kedua, menyentuh kemaluan bisa membatalkan wudhu bisa juga tidak membatalkan wudhu. Jika menimbulkan syahwat saat menyentuhnya, maka itu membatalkan wudhu’, jika tidak menimbulkan syahwat, maka hukumnya sama dengan seperti kita menyentuh anggota tubuh yang lain. Ini dijelaskan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Tamamul Minnah dan dinisbatkan pada Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah dalam beberapa kitabnya.


(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom