📗APAKAH PARA SAHABAT NABI PERNAH MAKAN MAKANAN YG DIHIDANGKAN DI ATAS MEJA?

Makan dengan makanan yang dihamparkan pada nampan atau di atas lantai tidak dengan meja makan adalah perbuatan yang dilakukan para Sahabat Nabi. Namun bukan berarti para Sahabat Nabi tidak pernah makan di atas meja makan sama sekali.

Sahabat Nabi Anas bin Malik radhiyallahu anhu tidak pernah mengetahui Nabi makan di atas meja makan, namun pernah terjadi –berdasarkan riwayat Sahabat Nabi lain- bahwa  dihidangkan makanan di atas khuwaan (sejenis meja makan dari kayu) dan Nabi tidak mengingkarinya.

Berikut ini akan disebutkan hadits Anas bin Malik yang tidak pernah melihat Nabi makan di atas meja makan dan juga hadits bahwa sebagian Sahabat makan yang dihidangkan di atas meja makan dan tidak diingkari oleh Nabi:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ مَا أَكَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى خِوَانٍ وَلَا فِي سُكُرُّجَة

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata: Tidak (pernah) Nabi shollallahu alaihi wasallam makan di atas meja ataupun menggunakan sukurrujah (sejenis bejana kecil)(H.R al-Bukhari)

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ عِنْدَ مَيْمُونَةَ وَعِنْدَهُ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَامْرَأَةٌ أُخْرَى إِذْ قُرِّبَ إِلَيْهِمْ خُوَانٌ عَلَيْهِ لَحْمٌ فَلَمَّا أَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْكُلَ قَالَتْ لَهُ مَيْمُونَةُ إِنَّهُ لَحْمُ ضَبٍّ فَكَفَّ يَدَهُ وَقَالَ هَذَا لَحْمٌ لَمْ آكُلْهُ قَطُّ وَقَالَ لَهُمْ كُلُوا فَأَكَلَ مِنْهُ الْفَضْلُ وَخَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ وَالْمَرْأَةُ

Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam ketika berada di sisi Maimunah dan bersama beliau ada al-Fadhl bin Abbas dan Kholid bin al-Walid dan seorang wanita lain, pada saat itu didekatkan pada mereka khuwaan (meja) yang di atasnya terdapat daging. Nabi shollallahu alaihi wasallam sudah akan mengambil makanan tersebut, Maimunah berkata kepada beliau: Sesungguhnya itu adalah daging ad-Dhobb (mirip biawak). Maka Nabi menahan diri (tidak jadi makan). Kemudian beliau bersabda: Ini adalah daging yang aku belum pernah memakannya. Kemudian beliau berkata kepada para Sahabat: Makanlah! Maka makanlah al-Fadhl, Kholid bin al-Waliid, dan seorang wanita (H.R Muslim dari Ibnu Abbas)

Makan di atas meja dengan sendok dan garpu juga bukanlah tasyabbuh dengan orang-orang Kafir.

Berikut kutipan dan terjemahan fatwa al-Lajnah ad-Daaimah:

س : هل صحيح أن الأكل على الطاولة (غرف السفرة) تشبها بالكفار ، وهل استعمال الملعقة أو الشوكة أثناء الأكل من الكبر ، أو من التشبه بالكفار ؟

ج  : لا حرج في الأكل على ما ذكر من الطاولة ونحوها ، ولا في الأكل بالشوكة والملعقة ونحوهما ، وليس في ذلك تشبه بالكفارة لأنه ليس مما يختص بهم .

وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Pertanyaan: Apakah benar bahwa makan di atas meja makan (ruang makan) adalah tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir. Apakah menggunakan sendok dan garpu pada saat makan termasuk kesombongan atau tasyabbuh dengan orang-orang kafir?

Jawab:

Tidak mengapa makan sebagaimana yang disebutkan, di atas meja makan dan semisalnya. Tidak mengapa pula makan dengan garpu dan sendok dan semisalnya. Yang demikian bukanlah tasyabbuh dengan orang-orang kafir karena hal itu bukan kekhususan perbuatan mereka .

Wa billahit taufiq wa shollallahu ala nabiyyinaa muhammadin wa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Al-Lajnah ad-Daaimah lil buhuuts wal iftaa’
Ketua : Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz
Wakil Ketua: Abdurrozzaq Afiifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayyan
(fatwa no 11292).

Intinya, makan dengan makanan yang dihamparkan di atas lantai/ tanah dan makan bersama adalah sesuatu yang sering dilakukan Nabi dan para Sahabat. Sesuatu hal yang utama. Namun, tidaklah dikatakan bahwa makan di atas meja adalah sesuatu hal yang terlarang atau perbuatan yang munkar. Demikian juga makan berjamaah adalah lebih utama, namun makan sendiri-sendiri bukanlah sesuatu hal yang terlarang.

...لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا...

…Tidak ada dosa bagi kalian makan bersama-sama atau sendiri-sendiri…(Q.S anNuur ayat 61)

Tambahan catatan:

Penjelasan makna khuwaan sebagai meja dari kayu bisa dilihat pada ‘Anul Ma’bud syarh Sunan Abi Dawud.
Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom