🌹📝 Berbakti Kepada Mertua

Pertanyaan:

1. Apakah berbakti kepada mertua sama halnya dengan berbakti kepada kedua orangtua?

2. Di dekat rumah kami sedang dibangun musholla, sedang kurang lebih 300 meter telah lama berdirinya masjid untuk sholat berjamaah. Pertanyaannya: Bagaimanakah keadaan musholla yang dibangun tersebut. Apakah tidak berdosa jika kami ikut membantu pembangunan musholla tersebut dan bolehkah kami sholat di musholla tersebut apabila sudah selesai??

Jawaban:

1. Mertua kedudukannya beda dengan orangtua kandung. Namun mertua harus diperlakukan dengan baik, diberi penghormatan dan pemulyaan yang baik.

Bagi seorang laki-laki, jika ia berbuat baik kepada mertuanya, maka ini termasuk bagian dari penunaian hak dan berbuat baik kepada istri. Demikian juga jika ia berbuat baik kepada kerabat-kerabat istri yang lain seperti kakak istri, adik istri, dan seterusnya. Bahkan termasuk kepada teman-teman dekat istri. Meskipun tentunya jika terhadap yang lain jenis tetap memperhatikan adab-adab dan batasan syar’i.

Pernah datang seorang wanita tua kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam saat Nabi bersama Aisyah. Nabi bertanya kepada wanita itu itu: Siapa engkau. Wanita itu menjawab: Saya Jatstsaamah al-Muzaniyyah. Nabi menyatakan: seharusnya namamu adalah Hassaanah al-Muzaniyyah. Kemudian Nabi berdialog dengan ramah dengan wanita itu (setelah beliau ingat pernah mengenalnya): Bagaimana kabar kalian? Bagaimana keadaan kalian setelah kami? Wanita itu menjawab: baik. Setelah wanita tua itu berlalu Aisyah bertanya kepada Nabi. Ya Rasulullah, mengapa sikap penerimaan anda demikian baik terhadap wanita itu? Nabi menyatakan bahwa wanita tua itu dulu (sering) datang saat Khadijah masih hidup. Kemudian Nabi menyatakan:

وَإِنَّ حُسْنَ الْعَهْدِ مِنَ الْإِيْمَانِ

Dan sesungguhnya bersikap baik dalam menjaga (penghormatan) adalah bagian dari iman (H.R al-Hakim, al-Baihaqy, dishahihkan al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby dan al-Albany dalam Silsilah as-Shahihah)

Nabi tetap menjaga sikap baik terhadap orang-orang dulu yang sering datang dan berteman akrab dengan Khadijah, meski Khadijah sudah meninggal. Itu adalah bagian dari husnul ‘ahd yang disebut Nabi termasuk bagian dari iman.

Nabi juga sangat perhatian dengan kerabat-kerabat dan orang-orang dekat Khadijah, beliau menyembelih kambing kemudian dagingnya dibagikan kepada orang-orang terdekat Khadijah (karib kerabat maupun teman dekatnya).

وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِي فِي خُلَّتِهَا مِنْهَا

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sungguh menyembelih kambing kemudian menghadiahkan (dagingnya) ke orang-orang dekat (kecintaan) Khadijah (H.R al-Bukhari dari Aisyah)

Perhatikan bagaimana sikap Nabi terhadap orang-orang dekat Khadijah yang demikian baik, padahal Khadijah sudah meninggal. Lalu bagaimana seharusnya seorang laki-laki bersikap terhadap orangtua yang melahirkan istrinya, apalagi sikap itu dilakukan saat istrinya masih hidup?! Tentunya harus lebih baik lagi sikapnya. Bukan untuk mengharapkan keridhaan istri semata, namun mengharapkan keridhaan Allah. Nabi melakukan itu saat Khadijah tidak akan tahu apa yang beliau perbuat terhadap orang-orang dekatnya sepeninggal beliau.

Maka mertua memiliki hak-hak perlakukan baik dari kita. Meski memang kedudukannya tidak sama dengan orangtua kandung.

2. Pertama, istilah musholla secara syar’i sebenarnya untuk tanah lapang yang dipakai untuk sholat Ied. Memang istilah orang awam menyebut surau atau masjid kecil sebagai musholla. Sebenarnya jika apa yang disebut oleh orang awam sebagai musholla itu adalah tempat yang dibangun sebagai tempat khusus untuk sholat dan telah diwakafkan, maka berlaku baginya hukum masjid.

Kedua, secara asal, jika sudah berdiri masjid, tidak boleh dibangun lagi masjid yang dekat dengannya. Karena hal itu bisa mengurangi jumlah jamaah masjid di tempat tersebut. Sebagaimana Allah mencela masjid ‘dhirar’ yang dibangun orang-orang munafik dekat dengan masjid Quba’ di Madinah karena ada unsur tafriq (memecah belah) di dalamnya. Selain unsur tafriq juga karena masjid ‘dhirar’ itu dibangun di atas kekafiran atas perintah Abu Amir ar-Rahib. InsyaAllah sebagian penjelasan terkait ayat tersebut akan dibahas dalam postingan kajian Kitabut Tauhid pada masa-masa mendatang.

Kecuali jika musholla itu nanti akan dibangun dengan kemaslahatan, seperti misalnya karena di masjid yang sudah berdiri sholatnya terlalu cepat tidak thuma’ninah. Atau karena banyak penyimpangan syar’i di masjid lama dan tidak bisa ditegakkan Sunnah dengan baik di masjid itu sedangkan otorisasi takmir sangat kuat, atau karena masjid yang lama dibangun di atas kuburan atau di depannya ada kuburan dalam areal kompleks masjid, maka yang demikian tidak mengapa.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom