💐📝Berbicara Tanpa Mengucap Salam Sebelumnya

Salah satu hadits yg sering dibacakan pada pembahasan fiqh puasa adalah hadits tentang seseorang yang berhubungan suami istri di siang hari Ramadhan. Seseorang itu datang kepada Nabi mengadukan keadaannya, hingga Nabi memberikan jalan keluar berupa pembayaran kaffarah, yaitu memerdekakan budak, jika tidak mampu berpuasa 2 bulan berturut-turur. Jika tidak mampu, memberi makan 60 orang miskin.

Ternyata Sahabat ini tidak mampu melaksanakan atau membayar kaffarah itu semua, dan dia merasa sebagai orang paling miskin di Madinah. Maka Nabi justru menghadiahkan sejumlah kurma utk dimakan oleh keluarganya.

Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur periwayatan. Syaikh Badr al-Anazy sebelum ke Indonesia sempat mengumpulkan faidah-faidah atau pelajaran yg diambil dari hadits tersebut. Beliau bisa mengumpulkan 400 faidah dari satu hadits tersebut, dan berkeinginan untuk menyempurnakan menjadi 1000.

Pada salah satu pelajaran Kitab al-Muwattha' beberapa hari lalu beliau membahas hadits tsb dan menyebutkan puluhan faidah yg bisa diambil dari hadits tsb.

Dalam beberapa riwayat hadits disebutkan bahwa laki-laki itu mendatangi Nabi saat Nabi dan sebagian Sahabat sedang ada di masjid. Laki-laki tersebut datang langsung menyatakan: Aku telah membinasakan diriku. Dia berkata demikian langsung saat bertemu Nabi. Salah satu faidah dari hadits ini adalah bolehnya seseorang berbicara tanpa mengucapkan salam sebelumnya. Hadits ini menunjukkan bahwa memulai mengucapkan salam sebelum pembicaraan adalah mustahab bukan wajib. Nabi tidak mengingkari perbuatan Sahabat tsb dan menyuruhnya mengucapkan salam terlebih dahulu.

Kemudian dalam hadits itu Nabi juga menyuruh laki-laki tsb untuk duduk. Hal ini menunjukkan bhw sholat tahiyyatul masjid sebelum duduk di masjid adalah mustahab bukan kewajiban. Karena Nabi tidak menyuruhnya utk sholat terlebih dahulu.

(sedikit catatan dari dars Kitab Muwattha' dgn Syaikh Badr, sebatas yg diingat).

<< Abu Utsman Kharisman>>

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom 2