💐📕DOA ORANG BERPUASA MUSTAJABAH

Pertanyaan di group WA al-I’tishom sebelumnya:

1. Disebutkan bahwa orang yang bershawm (puasa) doanya maqbul. Apakah hadits tentang ini shahih?
2. Bila shahih apakah bebas berdoa apa saja  atau doa ketika akan shawm?
3. Kapan waktunya ?

✅ Jawaban:

Orang berpuasa memiliki doa yang mustajabah.

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا تُرَدُّ : دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ  رواه البيهقي

Tiga doa yang tidak ditolak: Doa orangtua untuk anaknya, doa orang yang berpuasa, dan doa orang musafir (H.R al-Baihaqy, dishahihkan al-Albaniy dalam Shahihul Jami’ dan as-Shahihah).

Kapan doanya mustajabah? Diharapkan sepanjang ia berpuasa, yaitu sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari. Ini berlaku untuk semua ibadah shaum yang dilakukan di luar bulan Ramadhan. Sedangkan di dalam bulan Ramadhan, doa setiap muslim mustajabah siang dan malam.

Ada beberapa riwayat hadits yang menunjukkan bahwa keutamaan mustajabah doa itu pada saat ifthar (berbuka). Dan doa yang diucapkan bisa bermacam-macam sesuai kebutuhan. Masing-masing jalur periwayatan mengandung sedikit kelemahan, yang jika digabungkan, insyaAllah paling tidak sampai pada derajat hasan.

Ketiga jalur periwayatan itu dari 2 Sahabat, yaitu Ibnu Umar dan Abdullah bin ‘Amr:

1. Hadits Ibnu Umar:

قاَلَ ابْنُ عُمَرَ : كَانَ يُقَالُ إِنَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً عِنْدَ إِفْطَارِهِ إِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِي دُنْيَاهُ أَوْ يُدَّخَرَ بِهِ فِي آخِرَتِهِ. فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ    يَقُوْلُ عِنْدَ إِفْطَارِهِ : يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ اغْفِرْ لِي

Ibnu Umar berkata: Dikatakan bahwa pada setiap orang beriman terdapat doa mustajabah ketika ifthar. Bisa jadi akan disegerakan baginya di dunia, atau disimpan untuk akhiratnya. Ibnu Umar berdoa ketika ifthar (berbuka puasa): (Ya Allah) Wahai Yang luas ampunannya, ampunilah aku (H.R al-Baihaqy dalam Syu’abul Imaan).

Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Dhaiful Jami’. Jika dilihat pada sanadnya, bisa jadi sebab kelemahan hadits ini adalah perawi Abdul Aziz bin Abi Rowaad. Perawi ini kata Syaikh al-Albaniy mengandung sedikit kelemahan pada hafalannya. Sedangkan al-Hafidz Ibnu Hajar menyatakan: shoduq ahli ibadah dan kadangkala salah (Irwa’ul Gholil (4/308)). Sedangkan perawi yang lain berdasarkan penilaian adz-Dzahabiy dalam ta’liq thd al-Mustadrak: sanad haditsnya shahih (seperti no riwayat 2968, 2468, 799). 

2. Hadits Abdullah bin ‘Amr riwayat Abu Dawud atThoyaalisy:

عَنْ عَمْرٍو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ لِلصَّائِمِ عِنْدَ إِفْطَارِهَ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو إِذَا أَفْطَرَ دَعَى أَهْلَهَ وَوَلَدَهُ وَدَعَا

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersbada: Bagi orang yang shaum (berpuasa) ketika ifthar ada doa yang mustajabah . Abdullah bin ‘Amr jika ifthar (berbuka puasa), beliau memanggil keluarga dan anaknya kemudian berdoa.

Hadits ini mengandung kelemahan karena syaikh Abu Dawud, yaitu Abu Muhammad al-Mulaiky majhul (tidak dikenal).
 
3. Hadits Abdullah bin ‘Amr riwayat Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaqy

عَنِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عَمْروٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم : إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَة مَا تُرَدُّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الله يَقُولُ عِنْدَ فِطْرِهِ : اللهمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Dari Ibnu Abi Mulaikah dari Abdullah bin Amr beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya bagi orang yang berpuasa ketika berbukanya terdapat doa yang tidak tertolak. (Ibnu Abi Mulaikah) berkata: Saya mendengar Abdullah (bin Amr) ketika berbuka membaca doa: Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu untuk mengampuni dosaku

Hadits ini diperselisihkan oleh para Ulama. Sebagian menshahihkan, sebagian lagi mendhaifkan. Ada juga sebagian lain yang memberikan kemungkinan shahih.

Ulama yang menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan para perawinya terpercaya adalah al-Bushiry dalam Mishbaahuz Zujaajah juga dalam Ithaaful Khiyaroh al-Maharoh. Sedangkan Syaikh al-Albaniy melemahkannya. Al-Hakim memberikan isyarat adanya kemungkinan shahih pada hadits ini.

Sisi pandang yang berbeda ini terdapat pada perawi yang bernama Ishaq bin Abdillah yang meriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah. Siapakah Ishaq bin Abdillah di sini? Inilah yang menjadi masalah. Jika yang dimaksud adalah Ishaq bin Abdillah maula Zaaidah, maka ini adalah salah satu rijaal Muslim (. Kalau itu adalah Ishaq bin Abdillah bin Abi Farwah, maka ia adalah perawi yang lemah. Kedua kemungkinan ini yang disebut oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak. Ada juga kemungkinan itu adalah Ishaq bin Ubaidillah (bukan bin Abdillah) sebagaimana tersebut dalam riwayat Ibnu Majah. Syaikh al-Albaniy cenderung menguatkan kemungkinan bahwa perawi tersebut lemah atau majhul.

Itu adalah 3 jalur periwayatan yang setiap jalurnya mengandung kelemahan, namun jika digabungkan, paling tidak sampai pada derajat hasan.

Ada penjelasan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad tentang doa di saat ifthar itu maksudnya adalah ketika akan ifthar atau pada saat permulaan ifthar, seperti ketika sudah memakan satu suapan (atau meminum satu tegukan).

السؤال: قال صلى الله عليه وسلم: (إن للصائم عند فطره دعوة لا ترد) هل المراد بكلمة (عند) هنا ما قبل الفطور، وهل هذا الدعاء معين أو أي دعوة؟ الجواب: معلوم أنه يدعو عندما يريد أن يفطر وأثناء البدء بإفطاره، فهذا هو المناسب لهذا الدعاء؛ لأن الفطر يحصل بكونه يأكل أول لقمة، لكن لا نعلم دعاءً معيناً عند الإفطار

Pertanyaan: Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya pada orang yang berpuasa pada waktu berbuka ia memiliki doa yang tidak ditolak. Apakah maksud kata di saat (‘inda) ini adalah sebelum berbuka, dan apakah ini adalah doa tertentu atau doa apa saja? Jawaban Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad: telah dimaklumi bahwa berdoa tersebut ketika akan ifthar dan pertengahan permulaan ifthar. Inilah yang sesuai dengan doa tersebut. Karena ifthar tercapai dengan memakan permulaan suapan. Akan tetapi kami tidak mengetahui doa tertentu ketika ifthar (syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad (27/205)).

📌CATATAN: bisa jadi yang dimaksud dalam perkataan Syaikh : Kami tidak mengetahui doa tertentu ketika ifthar adalah karena beliau tidak melihat ada hadits yang shahih berdasarkan penelitian beliau tentang bacaan doa khusus yang dijadikan sunnah untuk dibaca setiap ifthar. Sehingga bacaan doa menjelang ifthar adalah doa yang berbeda-beda sesuai keinginan yang diminta oleh orang yang shaum tersebut pada waktu itu. Wallaahu A’lam.

Sedangkan pada bulan Ramadhan, waktu mustajabah doa berlaku untuk seluruh bagian siang dan malam.

إِنَّ للهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عُتَقَاءَ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ - يَعْنِي فِي رَمَضَانَ - وَإِنَّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةُ

Sesungguhnya Allah Tabaaroka Wa Ta’ala memiliki hamba-hamba yang dilepaskan (dari anNaar) pada setiap hari dan setiap malam –yaitu pada Ramadhan (penjelasan al-Mundziri)- dan sesungguhnya bagi setiap muslim pada setiap hari dan setiap malam memiliki doa mustajabah (H.R atThobarony dari Abu Said al-Khudriy, dinyatakan shahih lighoirihi oleh al-Albaniy dalam Shahih atTarghib)

Wallaahu A’lam bisshowaab

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom