🌹📝GHIBAH: DEFINISI, BAHAYA, DAN CONTOH SIKAP PARA ULAMA SALAF TERHADAPNYA (Bag ke-2)

✅Apa yang Harus Dilakukan Jika Terlanjur Ghibah

Jika seseorang terlanjur berbuat ghibah, maka yang harus dia lakukan:

1⃣Memohon ampunan kepada Allah atas perbuatan dosa ghibah yang telah dia lakukan.
2⃣Memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang dia ghibahi dan mendoakan kebaikan untuknya.
3⃣Bertekad kuat untuk tidak melakukan ghibah lagi.

Apakah harus menyampaikan kepada orang itu bahwa ia telah dighibahi dan minta dihalalkan darinya?

Yang benar adalah: jika orang itu mengetahui bahwa kita telah berbuat ghibah terhadapnya, maka kita meminta maaf kepadanya. Namun jika ia tidak mengetahuinya, maka tidak perlu kita sampaikan kepadanya bahwa kita telah berbuat ghibah terhadapnya.

Ibnul Mubarak (salah seorang guru alBukhari) menyatakan:
 
إِذَا اغْتَابَ رَجُلٌ رَجُلاً فَلاَ يُخْبِرْهُ وَلَكِنْ يَسْتَغْفِرُ اللهَ

Jika seseorang berbuat ghibah kepada orang lain, janganlah ia beritahukan kepadanya. Akan tetapi hendaknya ia beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah (riwayat alBaihaqy dalam Syuabul Iman)

✅SIKAP PARA ULAMA SALAF TERKAIT GHIBAH

عن مسلم البطين، عن سعيد بن جبير،أنه كان لا يدع أحدا يغتاب عنده

Dari Muslim al-Bathiin dari Said bin Jubair bahwasanya beliau tidak pernah membiarkan ada seorangpun yang berghibah di sisi beliau (Siyaar A’laamin Nubalaa’ (4/336))

Sahl bin Abdillah bin Yunus menyatakan:

من أخلاق الصديقين... وأن لا يغتابوا، ولا يغتاب عندهم

Termasuk di antara akhlak Shiddiqiin…tidak berghibah dan tidak membiarkan orang berghibah di sisi mereka (Siyaar A’laamin Nubalaa’ (13/332))

Wahb bin Munabbih menyatakan:

وَمَنْ أَكْثَرَ الْغِيْبَةَ وَالْبَغْضَاءَ لَمْ يُوَثَّقْ مِنْهُ بِالنَّصِيْحَةِ

Barangsiapa yang memperbanyak ghibah dan kebencian, tidak dipercaya dalam menyampaikan nashihat (Hilyatul Awliyaa’ (4/63))

Abdullah bin Wahb –seorang Atbaaut Tabi’in - menyatakan:

نذرت إني كلما اغتبت إنسانا أن أصوم يوما، فأجهدني، فكنت أغتاب وأصوم، فنويت أني كلما اغتبت إنسانا أن أتصدق بدرهم، فمن حب الدراهم تركت الغيبة

Saya bernadzar jika saya ghibah terhadap seseorang, saya akan berpuasa sehari. Ternyata hal itu menyulitkan saya. Saya masih berghibah dan saya berpuasa. Kemudian saya berniat setiap saya ghibah terhadap seseorang, saya akan bershodaqoh satu dirham. Karena saya merasa sayang terhadap dirham-dirham, maka saya tinggalkan ghibah (Siyar A’laamin Nubalaa’ (9/228))

Sufyan bin Uyainah –salah seorang guru al-Imam asy-Syafii- menyatakan:

الغيبة أشد من الدين الدين يقضى والغيبة لا تقضى

Ghibah itu lebih berat dibandingkan hutang. Kalau hutang bisa dibayar, sedangkan ghibah tidak bisa dibayar (Hilyatul Awliyaa’ (7/275))

Al-Fudhail bin ‘Iyaadl menyatakan:

إذا ظهرت الغيبة ارتفعت الأخوة في الله

Jika nampak (tersebar) ghibah, terangkatlah ukhuwwah (persaudaraan) karena Allah (Hilyatul Awliyaa’ (8/96))

Wuhaib al-Ward –salah seorang Atbaaut Tabi’in dan guru Ibnul Mubarok- menyatakan:

لأن أدع الغيبة أحب الي من أن يكون لي الدنيا منذ خلقت إلى أن تفنى فأجعلها في سبيل الله

Kalau aku meninggalkan ghibah, itu lebih aku sukai dibandingkan aku memiliki dunia sejak aku dilahirkan hingga aku meninggal, kemudian aku infaqkan di jalan Allah (Hilyatul Awliyaa’ (8/153))

Ad-Dhohhaak bin Makhlad menyatakan:

منذ عقلت أن الغيبة حرام، ما أغتبت أحدا قط

Sejak saya mengetahui bahwa ghibah itu haram, saya tidak pernah berghibah terhadap seorangpun (Siyaar A’laamin Nubalaa’ (9/482))

Al-Imam al-Bukhari menyatakan:

ما اغتبت أحدا قط منذ علمت أن الغيبة تضر أهلها

Saya tidak pernah berghibah terhadap seseorang sejak saya tahu bahwa ghibah itu membahayakan pelakunya (Siyaar A’laamin Nubalaa’ (12/441)).

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom