🔴HUTANG PUASA ORANG YANG MENINGGAL 🔗🔵

-------------------------
#hutang_puasa
#bakti_anak
#bin_baz
-------------------------

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

Penjelasan Hadits

(( ﻣَﻦْ ﻣَﺎﺕَ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻِﻴَﺎﻡٌ ﺻَﺎﻡَ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﻟِﻴُّﻪُ ))

"Seseorang yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, walinyalah yang menunaikan penggantian puasa baginya."


❓PERTANYAAN:

(tentang) hadits (yang maknanya):

"Seseorang yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, walinyalah yang menunaikan penggantian puasa baginya." sesuatu yang saya ketahui sebelumnya bahwa hadits ini dibawakan kepada jenis puasa nadzar. Akan tetapi salah seorang ulama telah menyebutkan pada suatu acara bahwa yang dimaksud adalah puasa ramadhan. Apakah yang demikian itu benar? ataukah yang benar justru yang sebelumnya pernah saya ketahui dari salah satu kitab salafiyyah?
Mohon saya diberikan faidah, diharapkan pahala bagi anda, semoga Allah membalas anda dengan kebaikan."


♻️ JAWABAN:

Yang benar bahwa hadits tersebut umum mencakup (seluruh jenis puasa), dan tidak hanya khusus untuk (jenis puasa) nadzar.

Betapapun telah diriwayatkan dari sebagian imam seperti Ahmad (bin Hanbal) dan beberapa ulama lainnya -rahimahumullah- bahwa mereka berpendapat: "(hadits) itu khusus untuk (puasa) nadzar" akan tetapi yang demikian merupakan pendapat yang lemah, serta tidak (diketahui) adanya dalil padanya, sedangkan yang benar adalah berlaku umum.

Karena arRasul -shollallahu 'alaihi wasallam- telah bersabda:

(( ﻣَﻦْ ﻣَﺎﺕَ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺻِﻴَﺎﻡٌ ﺻَﺎﻡَ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﻟِﻴُّﻪُ ))

"Seseorang yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan PUASA, walinyalah yang menunaikan penggantian puasa baginya."1) yang telah disepakati keshahaihannya dari hadits 'Aisyah -radhiyallahu 'anha- dimana tidak disabdakan: "puasa nadzar".

Sementara tidak diperbolehkan mengkhususkan sabda Nabi -shollallahu 'alaihi wasallam- (kepada suatu masalah saja -pent.) kecuali dengan dalil. Sebab hadits Nabi -shollallahu 'alaihi wasallam- berlaku umum, mencakup puasa nadzar atapun puasa ramadhan.

Jika seorang muslim pernah menunda penunaian (qodho') hutang puasa ramadhan karena malas padahal dia memiliki kemampuan, atau pada puasa kaffaroh; yang demikian itu bisa digantikan puasanya oleh walinya.

Sementara yang disebut wali (di sini) yaitu karib kerabat yang terdekat (hubungannya). (Jika bukan) walaupun yang menggantikan pihak lainnya diperbolehkan juga.

Juga sungguh telah ditanyakan oleh seorang (sahabat) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dia berkata: "wahai Rasulullah, ibu saya telah wafat, sedangkan beliau memiliki tanggungan puasa satu bulan, apakah boleh jika saya menunaikan puasa itu untuknya?"

Maka Nabi -shollallahu 'alaihi wasallam- pun menjawab:

(( ﺃﺭﺃﻳﺖِ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻚِ ﺩﻳﻦ ﺃﻛﻨﺖِ ﻗﺎﺿﻴﺘﻪ؟ ﺍﻗﻀﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﻮﻓﺎﺀ ))

((Bagaimana pandangan anda, jika seandainya ibu anda memiliki hutang, apakah anda akan membayarnya? Tunaikanlah penggantian tanggungan kepada Allah, sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditunaikan))2).

Pernah pula seorang wanita (sahabiyyah) bertanya kepada beliau -shollallahu 'alaihi wasallam- tentang itu, dia berkata: "wahai Rasulullah, ibu saya telah wafat, sedangkan beliau memiliki tanggungan puasa satu bulan, apakah boleh jika saya menunaikan puasa itu untuknya?"

Maka Nabi -shollallahu 'alaihi wasallam- pun menjawab:

(( ﺃﺭﺃﻳﺖِ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻚِ ﺩﻳﻦ ﺃﻛﻨﺖِ ﻗﺎﺿﻴﺘﻪ؟ ﺍﻗﻀﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﻮﻓﺎﺀ ))

((Bagaimana pandangan anda, jika seandainya ibu anda memiliki hutang, apakah anda akan membayarnya? Tunaikanlah penggantian tanggungan kepada Allah, sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditunaikan)).

Demikian juga pada Musnad Ahmad dengan sanad yang shahih dari Abdullah ibnu Abbas -radhiyallahu 'anhuma- pernah seorang wanita bertanya: "wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu saya telah meninggal, sementara beliau dulu masih memiliki tanggungan penunaian PUASA RAMADHAN, apakah diperbolehkan bagi saya untuk menunaikan baginya? dimana beliau -shollallahu 'alaihi wasallam- menjawab: ((ﺻﻮﻣﻲ ﻋﻦ ﺃﻣﻚ))

<<Puasalah (kepada Allah-pent.- sebagai ganti) bagi ibu anda>>

Maka nampak jelaslah bahwa (jenisnya) adalah (puasa wajib) Ramadhan, dimana beliau -shallallahu 'alaihi- memerintahkan wanita shahabiyyah tadi untuk menunaikan puasa itu.

Dan hadits-hadits (tentang masalah ini) banyak yang menunjukkan (disyariatkannya) qodho' Ramadhan dan selainnya. Dan bahwasanya tidak ada celah pengkhususan kepada (jenis puasa) nadzar, bahkan itu merupakan pendapat yang ditinggalkan lagi lemah, sementara yang benar adalah berlaku umum (pada semua jenis puasa wajib -pent.)

Demikianlah adanya dalil dari Rasulullah -shollallahu 'alaihi wasallam- akan tetapi jika orang yang tidak berpuasa pada bulan Romadhan tadi karena tidak memiliki kemampuan, bahkan ia tidak puasa dikarenakan sakit, atau sebab menyusui, atau hamil, kemudian orang yang sakit, atau hamil, atau yng menyusui itu ternyata meninggal dunia sebelum sempat membayar qodho'; tidaklah ada kewajiban apapun baginya, tidak pula bagi ahli warisny; tidak perlu mengganti puasa (qodho'), tidak pula memberi makanan karena adanya udzur syar'iu yaitu sakit atau semisalnya.

Adapun jika dia sempat sembuh dari sakitnya, lalu ada kesempatan untuk puasa, akan tetapi dia justru meremehkan (dengan menunda-nunda penunaiannya -pent.) pada kondisi inilah DITUNAIKAN BAGINYA.

Untuk wanita yang hamil atau menyusui, jika keduanya mampu puasa setelah (masa kehamilan atau penyusuan) itu namun mereka meremehkannya, maka bagi keduanya ditunaikan.

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

1) Dicantumkan oleh alBukhariy dalam Kitab ashShoum Bab "Man Mata wa'alaihishshoum" no. 1816, dan Muslim dalam Kitab ashShiyam Bab "Qodho-ushShoumi 'anilMayyit" no. 1935

2) Dicantumkan oleh Muslim dalam Kitab ashShiyam Bab "Qodho-ushShoumi 'anilMayyit" no. 1937

🇸🇦🇸🇦🇸🇦🇸🇦🇸🇦🇸🇦🇸🇦🇸🇦🇸🇦

ﺷﺮﺡ ﺣﺪﻳﺚ : (( ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﺻﺎﻡ ﻋﻨﻪ ﻭﻟﻴﻪ ))

ﺣﺪﻳﺚ )) ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻮﻡ ﺻﺎﻡ ﻋﻨﻪ ﻭﻟﻴﻪ (( ﺍﻟﺸﻲﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻋﺮﻑ ﺃﻧﻪ ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﻨﺬﺭ، ﻟﻜﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺫﻛﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺮﻧﺎﻣﺞ ﺃﻧﻪ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ، ﻓﻬﻞ ﻫﺬﺍ ﺻﺤﻴﺢ ﺃﻡ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻣﺎ ﺃﻋﺮﻑ ﻋﻦ ﻃﺮﻳﻖ ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﺴﻠﻔﻴﺔ؟ ﺃﻓﻴﺪﻭﻧﻲ ﻣﺄﺟﻮﺭﻳﻦ ﺟﺰﺍﻛﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮﺍً .

ﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻧﻪ ﻋﺎﻡ ﻭﻟﻴﺲ ﺧﺎﺻﺎً ﺑﺎﻟﻨﺬﺭ، ﻭﻗﺪ ﺭﻭﻱ ﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻷﺋﻤﺔ ﻛﺄﺣﻤﺪ ﻭﺟﻤﺎﻋﺔ ﺃﻧﻬﻢ ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﺇﻧﻪ ﺧﺎﺹ ﺑﺎﻟﻨﺬﺭ، ﻭﻟﻜﻨﻪ ﻗﻮﻝ ﻣﺮﺟﻮﺡ ﻭﻻ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺃﻧﻪ ﻋﺎﻡ؛ ﻷﻥ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ : )) ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻴﺎﻡ ﺻﺎﻡ ﻋﻨﻪ ﻭﻟﻴﻪ (( [1] ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺘﻪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ . ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ : ﺻﻮﻡ ﺍﻟﻨﺬﺭ، ﻭﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﻛﻼﻡ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﺪﻟﻴﻞ؛ ﻷﻥ ﺣﺪﻳﺚ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﺎﻡ ﻳﻌﻢ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﻨﺬﺭ ﻭﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺇﺫﺍ ﺗﺄﺧﺮ ﺍﻟﻤﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﻗﻀﺎﺋﻪ ﺗﻜﺎﺳﻼً ﻣﻊ ﺍﻟﻘﺪﺭﺓ ﺃﻭ ﺻﻮﻡ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭﺍﺕ، ﻓﻤﻦ ﺗﺮﻙ ﺫﻟﻚ ﺻﺎﻡ ﻋﻨﻪ ﻭﻟﻴﻪ، ﻭﺍﻟﻮﻟﻲ ﻫﻮ ﺍﻟﻘﺮﻳﺐ ﻣﻦ ﺃﻗﺎﺭﺑﻪ، ﻭﺇﻥ ﺻﺎﻡ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺟﺰﺃ ﺫﻟﻚ .

ﻓﻘﺪ ﺳﺌﻞ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺄﻟﻪ ﺭﺟﻞ : ﻗﺎﻝ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﻣﻲ ﻣﺎﺗﺖ ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﺃﻓﺄﺻﻮﻡ ﻋﻨﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ : )) ﺃﺭﺃﻳﺖ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻚ ﺩﻳﻦ ﺃﻛﻨﺖ ﻗﺎﺿﻴﻪ؟ ﺍﻗﻀﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﻮﻓﺎﺀ (( [2] .
ﻭﺳﺄﻟﺘﻪ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻗﺎﻟﺖ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻥ ﺃﻣﻲ ﻣﺎﺗﺖ ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﺃﻓﺄﺻﻮﻡ ﻋﻨﻬﺎ ﻗﺎﻝ : )) ﺃﺭﺃﻳﺖِ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﻚِ ﺩﻳﻦ ﺃﻛﻨﺖِ ﻗﺎﺿﻴﺘﻪ؟ ﺍﻗﻀﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﻟﻠﻪ ﺃﺣﻖ ﺑﺎﻟﻮﻓﺎﺀ (( .
ﻭﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩ ﺻﺤﻴﺢ ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻗﺎﻟﺖ : ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻧﻲ ﺃﻣﻲ ﻣﺎﺗﺖ ﻭﻋﻠﻴﻬﺎ ﺻﻮﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻓﺄﺻﻮﻡ ﻋﻨﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ : )) ﺻﻮﻣﻲ ﻋﻦ ﺃﻣﻚ (( ﻓﺄﻭﺿﺤﺖ ﺃﻧﻪ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻓﺄﻣﺮﻫﺎ ﺑﺎﻟﺼﻴﺎﻡ .

ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻛﺜﻴﺮﺓ ﺩﺍﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﻗﻀﺎﺀ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﻏﻴﺮﻩ، ﻭﺃﻧﻪ ﻻ ﻭﺟﻪ ﻟﺘﺨﺼﻴﺺ ﺍﻟﻨﺬﺭ ﺑﻞ ﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﻣﺮﺟﻮﺡ ﺿﻌﻴﻒ ﻭﺍﻟﺼﻮﺍﺏ ﺍﻟﻌﻤﻮﻡ .
ﻫﻜﺬﺍ ﺟﺎﺀﺕ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻋﻦ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ، ﻟﻜﻦ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﻔﻄﺮ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻟﻢ ﻳﻔﺮﻁ، ﺑﻞ ﺃﻓﻄﺮ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﺃﻭ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ ﺍﻟﺮﺿﺎﻉ ﺃﻭ ﺍﻟﺤﻤﻞ ﺛﻢ ﻣﺎﺕ ﺍﻟﻤﺮﻳﺾ ﺃﻭ ﻣﺎﺗﺖ ﺍﻟﺤﺎﻣﻞ ﺃﻭ ﻣﺎﺗﺖ ﺍﻟﻤﺮﺿﻌﺔ ﻭﻟﻢ ﺗﺴﺘﻄﻊ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻓﻼ ﺷﻲﺀ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻮﺭﺛﺔ، ﻻ ﻗﻀﺎﺀ ﻭﻻ ﺇﻃﻌﺎﻡ ﻟﻠﻌﺬﺭ ﺍﻟﺸﺮﻋﻲ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺮﺽ ﻭﻧﺤﻮﻩ . ﺃﻣﺎ ﺇﻥ ﺷﻔﻲ ﻣﻦ ﻣﺮﺿﻪ ﻭﺃﻣﻜﻨﻪ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻓﺘﺴﺎﻫﻞ ﻓﻴﻘﻀﻰ ﻋﻨﻪ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺿﻌﺔ ﻭﺍﻟﺤﺎﻣﻞ ﺇﻥ ﺍﺳﺘﻄﺎﻋﺘﺎ ﺃﻥ ﺗﻘﻀﻴﺎ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻓﺘﺴﺎﻫﻠﺘﺎ ﻓﻬﻤﺎ ﻳﻘﻀﻰ ﻋﻨﻬﻤﺎ . ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻭﻟﻲ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ .
[1] ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻮﻡ، ﺑﺎﺏ ﻣﻦ ﻣﺎﺕ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺻﻮﻡ، ﺑﺮﻗﻢ 1816 ، ﻭﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ ﺑﺎﺏ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ، ﺑﺮﻗﻢ .1935
[2] ﺃﺧﺮﺟﻪ ﻣﺴﻠﻢ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺼﻴﺎﻡ، ﺑﺎﺏ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺼﻮﻡ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻴﺖ، ﺑﺮﻗﻢ .1937

http://www.binbaz.org.sa/node/3382

🇸🇦-----------------------🇮🇩
Dialihbahasakan oleh
Abu Abdirrahman Sofian عفى الله عنه ووالديه والمؤمنين ... آمين

🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃
📡group WA al I'tishom | Paiton | 02 Jumadil Awwal 1436 H