📕🌷 ISTRI MINTA CERAI KARENA SERING DIDZHOLIMI

Secara asal, seorang istri tidak boleh  meminta diceraikan, bahkan haram (dosa besar) jika tidak ada sebab syar’i yang mendasarinya.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلَاقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ

Wanita mana saja yang meminta thalaq kepada suaminya tanpa ada alasan (yang dibenarkan), maka haram baginya bau surga (H.R Ahmad dari Tsauban, dishahihkan Syaikh al-Albany dalam Shahih al-Jaami’is Shoghiir)

Jika seorang wanita sering didzholimi, boleh bagi dia untuk meminta cerai atau melakukan khulu’ melalui pengadilan agama. Pada saat ia didzholimi, hendaknya ia bersabar dan banyak berdoa kepada Allah, karena tetapnya ikatan pernikahan adalah lebih baik dibandingkan perceraian. Namun, jika ia sudah tidak kuat lagi karena demikian banyaknya kedzhaliman dan tidak bisa diharapkan perbaikan, bisa mengajukan kepada pengadilan agama tentang masalahnya tersebut.

Seorang suami haram untuk mendzhalimi istrinya. Dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kedzhalimannya tersebut nanti pada hari kiamat. Kedzhaliman akan mengakibatkan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.

اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Takutlah kalian dari kedzhaliman. Karena sesungguhnya kedzhaliman mengakibatkan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat (H.R Muslim dari Jabir)

Segala macam kedzhaliman kepada makhluk yang lain akan berakibat penyesalan pada hari kiamat. Jika seseorang mendzhalimi orang lain, orang yang didzhalimi tersebut bisa jadi akan mengambil pahala-pahalanya sesuai kadar kedzhaliman tersebut, atau jika tidak tersisa pahala, dibebankanlah dosa-dosa orang yang terdzhalimi itu kepada pihak yang mendzhaliminya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ 

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu? Para Sahabat berkata: Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya dirham (uang) dan juga tidak punya materi. Nabi bersabda: orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, tetapi ia telah  mencerca orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, memukul orang lain. Sehingga, orang-orang yang terdzhalimi itu akan mengambil kebaikan-kebaikannya (setara dengan kedzhalimannya). Jika sudah habis kebaikannya, dilimpahkan dosa (dari orang yang didzhalimi tersebut) kepadanya, hingga ia dilemparkan ke neraka (H.R Muslim)

Namun, ada satu hal yang harus dipahami. Kadangkala seorang wanita merasa terdzhalimi ketika ia dimadu atau suaminya menikah lagi. Padahal, menikah lebih dari satu bukanlah kedzhaliman selama hak-hak istri tertunaikan dengan baik secara lahiriah dan tidak berat sebelah. Sekedar taaddud bukanlah kedzhaliman. Sesuatu baru dianggap sebagai kedzhaliman dalam pernikahan lebih dari satu istri jika satu istri tidak tertunaikan hak-haknya dengan baik dan ditelantarkan, atau sang suami sering menyakiti istri baik dengan perbuatan atau ucapan.

Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom