💐📝KAJIAN TAFSIR SURAT AL-MAA’UUN (Bag ke-1)

Surat ini adalah Makkiyyah. Dinamakan dengan surat al-Maa’uun karena mengandung kata al-Maa’uun, yaitu di ayat terakhir. InsyaAllah di ayat yang terakhir akan dijelaskan makna al-Maa’uun.

💎Ayat Ke-1 Surat al-Maa’uun

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ

Arti Kalimat: Tidakkah engkau melihat orang yang mendustakan (hari) pembalasan?

Ucapan aro-ayta artinya adalah : tidakkah engkau melihat. Bisa juga diartikan: kabarkan kepadaku, bagaimana pendapatmu tentang…

Makna ad-Diin dalam ayat ini artinya adalah ‘pembalasan’, sebagaimana firman Allah:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Yang Menguasai hari pembalasan (Q.S al-Fatihah ayat 4)

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ

Pada hari tersebut Allah menyempurnakan pembalasan untuk mereka secara haq (adil)…(Q.S anNuur ayat 25)

Orang-orang Kafir tidak meyakini bahwa mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Para penentang dakwah Rasul bertanya dengan maksud mengejek: Apakah mungkin kami akan dibangkitkan?! Hal itu sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an:

أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنْتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُمْ مُخْرَجُونَ (35) هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ (36) إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ (37)

Apakah dia (Rasul) menjanjikan bahwa jika kalian mati berkalang tanah dan berupa tulang belulang, kalian akan dikeluarkan (dari kubur). Sungguh jauh hal yang dijanjikan kepada kalian itu. Tidaklah kehidupan kita kecuali dunia, kita mati dan hidup. Dan kita tidak akan dibangkitkan (Q.S al-Mu’minuun ayat 35-37)

قَالُوا أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَئِنَّا لَمَبْعُوثُونَ (82) لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآَبَاؤُنَا هَذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (83)

Mereka berkata: Apakah jika kita mati berupa tanah dan tulang belulang, kita akan dibangkitkan? Kami dan nenek moyang kami sudah dapat peringatan demikian sebelumnya (sudah sejak lama). Tidaklah itu kecuali hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu (Q.S al-Mu’minuun ayat 82-83)

Orang yang mendustakan hari pembalasan berarti ia tidak percaya akan adanya pahala dan dosa, Surga dan Neraka. Sehingga ia berbuat semaunya, tidak peduli dengan perintah dan larangan Allah, karena tidak yakin bahwa ia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

💎Ayat Ke-2 Surat al-Maa’uun

فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

Arti Kalimat: Itu adalah (orang) yang menghardik (mendorong dengan keras) anak Yatim

Kata yadu’-u maknanya adalah menolak atau mendorong dengan kasar dan keras. Bisa secara fisik dengan perbuatan, bisa juga dengan ucapan yang menyakitkan dan merendahkan. Ini adalah sikap orang-orang yang tidak percaya dengan hari pembalasan. Ia melihat anak Yatim –anak yang belum baligh dan ayahnya telah meninggal- adalah pihak yang tidak berdaya, tidak akan mungkin bisa membalas perbuatannya, karena itu ia bertindak sewenang-wenang.

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa sikap ‘mendorong dengan kasar’ anak Yatim tersebut adalah karena kekerasan hatinya. Sungguh benar yang beliau nyatakan. Karena kedua sifat yang disebut dalam surat ini, yaitu menghardik anak Yatim dan tidak menganjurkan orang untuk memberi makan orang miskin adalah penyebab kerasnya hati. Sebaliknya, bersikap baik kepada anak Yatim dan memberi makan orang miskin adalah anjuran Nabi shollallahu alaihi wasallam bagi yang ingin melunakkan hatinya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَكَا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ امْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ وَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa seorang laki-laki mengadukan kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam perihal kekerasan hatinya. Maka Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Usaplah kepala anak Yatim dan berikanlah makanan kepada orang miskin (H.R Ahmad, dinyatakan bahwa rijalnya adalah rijal as-Shahih oleh al-Mundziri dalam atTarghib wat Tarhiib dan dinyatakan shahih li ghoirihi oleh al-Albaniy)

Dalam ayat yang lain Allah melarang sikap sewenang-sewenang, kasar, dan dzhalim kepada anak Yatim:

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

Adapun terhadap anak Yatim, maka janganlah engkau bersikap sewenang-wenang (Q.S ad-Dhuha ayat 9)

💎Ayat Ke-3 Surat al-Maa’uun

وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Arti Kalimat: dan dia tidak menganjurkan (orang lain) untuk memberi makan kepada kaum miskin

Sikap buruk orang yang disebut dalam surat ini tidak sekedar menghardik anak Yatim, namun juga tidak mau menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang miskin. Jika sekedar menganjurkan orang lain saja ia tidak mau, terlebih lagi dia sendiri tidak akan mau untuk memberi makan kepada orang miskin (Tafsir as-Sa’di).

Dua perbuatan buruk yang disebut di ayat 2 dan 3 surat al-Maa’uun ini adalah sepasang perbuatan yang juga dicela oleh Allah dalam ayat yang lain:

كَلَّا بَلْ لَا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (17) وَلَا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (18)

Sekali-kali tidak. Bahkan kalian tidak memulyakan anak Yatim. Dan kalian benar-benar tidak menganjurkan (orang lain) untuk memberi makan orang miskin (Q.S al-Fajr ayat 18-19)

Demikianlah sikap orang-orang yang tidak beriman akan datangnya hari kiamat.

Sangat jauh berbeda dengan kaum beriman, mereka suka memberi makan kepada orang miskin dengan ikhlas karena takut akan datangnya hari kiamat:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9) إِنَّا نَخَافُ مِنْ رَبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (10)

Dan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan perang. (Ia berkata dalam hati) Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian untuk mengharapkan Wajah Allah (ikhlas). Kami tidak mengharapkan balasan (dari manusia) dan tidak pula ucapan terima kasih. Sesungguhnya kami takut kepada Rabb kami, akan datangnya suatu hari ketika) orang-orang berwajah muram penuh kesulitan (Q.S al-Insaan ayat 8-9)
(faidah penjelasan Syaikh Muhammad Athiyyah Salim yang melanjutkan penulisan Tafsir Adhwaa-ul Bayaan)

Undangan makan-makan (Walimah pernikahan) adalah tercela jika mengkhususkan hanya untuk orang kaya, sedangkan orang miskin dihalangi dari menghadirinya.

 Nabi shollalahu alaihi wasallam bersabda:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُمْنَعُهَا مَنْ يَأْتِيهَا وَيُدْعَى إِلَيْهَا مَنْ يَأْبَاهَا

Seburuk-buruk makanan adalah makanan saat walimah yang dilarang hadir orang yang mendatanginya (orang miskin), dan diundang orang yang enggan hadir (orang kaya) (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyatakan:

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الْأَغْنِيَاءُ وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

Seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah, yang diundang (hanya) orang-orang kaya dan kaum fakir ditinggalkan (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Penyebutan sikap menghardik anak Yatim dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin itu adalah sekedar penyebutan contoh terhadap 2 hal, yaitu: mengerjakan hal yang tercela (menghardik anak Yatim) dan meninggalkan perbuatan baik (menganjurkan memberi makan orang miskin).

Jika disebutkan pada ayat ini 2 obyek yang jadi sasaran adalah anak Yatim dan orang miskin, karena kedua pihak itu adalah pihak yang lemah tak berdaya. Jika mereka diberi bantuan atau kebaikan, mereka tidak akan bisa membalas secara langsung dalam bentuk yang terlihat di dunia karena kelemahan mereka, dan jika mereka disikapi dengan perbuatan buruk, mereka tidak punya kemampuan membalas perbuatan buruk itu. Sikap berbuat baik kepada pihak-pihak yang lemah ini atau menjaga diri untuk tidak menyakiti mereka, sebenarnya didasari oleh keimanan bahwa setiap perbuatan baik atau buruk kepada pihak manapun Allahlah yang akan membalasnya. Maka bagi orang yang tidak beriman terhadap balasan dari Allah itu, mereka akan bertindak sewenang-wenang (disarikan dari faidah penjelasan Syaikh Muhammad Athiyyah Salim dalam Tatimmah Adhwaail Bayaan)

(Sumber referensi: Tafsir Juz Amma libni Utsaimin, Tafsir as-Sa’di, Tatimmah Adhwaa-il Bayaan, Tafsir Ibn Katsir)

<< Materi Kajian Ta’lim Ummahat Majelis Ta’lim al-I’tishom bissunnah Probolinggo bulan Dzulhijjah 1436 H >>

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom