💐📝KAJIAN TAFSIR SURAT AL-MAA’UUN (BAG KE-2)

💎Ayat Ke-4 dan Ke-5 Surat al-Maa’uun

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

Arti Kalimat: Maka celakalah bagi orang sholat. Yaitu orang yang lalai terhadap sholatnya

Allah mencela orang yang lalai terhadap sholatnya. Beberapa bentuk sikap lalai terhadap sholat yang dijelaskan para Ulama di antaranya: mengakhirkan waktunya, tidak menegakkan syarat-syarat dan rukun sholat dengan sempurna, misalkan terlalu cepat dalam sholatnya, tidak benar dalam ruku’ dan sujudnya. Mayoritas pikirannya tidak perhatian dengan sholat, ingat Allah hanya sedikit saja.

Kebiasaan orang-orang munafik adalah mengakhirkan sholat. Kemudian, setelah dekat masa berakhirnya waktu sholat itu, ia segera bangkit sholat, mengerjakannya dengan tergesa-gesa tidak thuma’ninah.

تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا

Itu adalah sholat Munafiq, (yaitu) duduk menunggu matahari hingga (menjelang tenggelam) di antara dua tanduk syaithan, ia mematuk 4 kali, tidaklah mengingat Allah kecuali hanya sedikit (H.R Muslim dari Anas bin Malik)

Seharusnya bagi yang tidak memiliki udzur, sholat Ashar dikerjakan sebelum matahari berubah warna. Kalau sudah mulai berubah warna, meski belum tenggelam, sesungguhnya itu adalah waktu sholat Ashar yang darurat. Bagi yang sholat di waktu itu tanpa udzur, dia berdosa menurut sebagian Ulama’.

وَوَقْتُ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ

Dan waktu sholat Ashar selama matahari belum menguning (H.R Muslim dari Abdullah bin Amr)

ثُمَّ أَخَّرَ الْعَصْرَ حَتَّى انْصَرَفَ مِنْهَا وَالْقَائِلُ يَقُولُ قَدْ احْمَرَّتْ الشَّمْسُ

Kemudian Nabi mengakhirkan sholat Ashar hingga pada saat selesai sholat ada Sahabat yang berkata: Matahari telah memerah (H.R Muslim dari Abu Musa al-Asy’ariy)

Saat matahari sudah mulai berubah warna, sinarnya tidak lagi garang dan enak dilihat, saat itu sebenarnya sudah berakhir waktu Ashar yang normal. Kalau di Indonesia mungkin berkisar antara 30-45 menit atau mungkin 1 jam menjelang terbenam matahari, sebagai bentuk kehati-hatian. Jika waktu Maghrib adalag pukul 17.30, janganlah melakukan sholat Ashar lebih dari jam 16.30 bagi yg tdk memiliki udzur. Terutama para ibu-ibu yg tdk wajib harus ke masjid utk melaksanakan sholat saat berkumandang adzan.

Demikian juga waktu Isya’. Janganlah seseorang menyengaja melakukan sholat Isya’ setelah melewati tengah malam tanpa udzur. Karena waktu Isya’ yang normal bagi orang yang tidak memiliki udzur adalah hingga tengah malam, sesuai hadits:

وَوَقْتُ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الْأَوْسَطِ

Waktu sholat Isya hingga tengah malam (H.R Muslim)

Sebagai contoh, jika Maghrib adalah jam 18.00 WIB dan Subuh pada 04.00 WIB, maka rentang waktu malam adalah 10 jam. Jadi, waktu Isya berakhir pada 5 jam setelah Maghrib, yaitu jam 23.00 WIB.

Termasuk lalai terhadap sholat yang diancam mendapatkan kecelakaan dalam ayat ini adalah sholat dengan gerakan yang tergesa-gesa, terburu-buru (tidak thuma’ninah).

Seseorang yang sholat tidak thuma’ninah, tidak sah sholatnya. Orang yang sholatnya sangat cepat, terburu-buru dan tidak menyempurnakan ruku dan sujudnya tidak sah sholatnya, dan terhitung sebagai pencuri sholat.

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِيْ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ قَالَ لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهَا وَلاَ سُجُوْدَهَا

“ Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari sholatnya. (Para Sahabat bertanya) : Bagaimana seseorang bisa mencuri dari sholatnya? (Rasul menjawab) : ‘ Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya “ (H.R Ahmad dan At-Thobrony, al-Haitsamy menyatakan bahwa para perawi hadits ini adalah perawi-perawi hadits shohih, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Haakim)

Selain orang yang sholat sendirian, para Imam juga sebagian ada yang tidak thuma’ninah dalam sholatnya. Makmum belum selesai baca al-Fatihah, Imam sudah ruku’. Makmum belum selesai membaca bacaan ruku’ yang wajib, Imam sudah bangkit dari ruku’, dan seterusnya. Ini adalah musibah. Semoga Allah memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  رَأَى رَجُلاً لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ يَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ مَاتَ هَذَا عَلَى حَالِهِ هَذِهِ مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ مَثَلُ الَّذِيْ لاَ يُتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِيْ سُجُوْدِهِ مِثْلُ اْلجَائِعِ يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَانِ لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا

Dari Abu Abdillah al-Asy’ari radliyallaahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan ruku’nya, dan waktu sujud (dilakukan cepat seakan-akan) mematuk dalam keadaan dia sholat. Maka Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya “(H.R Abu Ya’la,al-Baihaqy, at-Thobrony, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, dan dihasankan oleh Syaikh AlAlbaany)

Di dalam ayat ini Allah mencela orang yang ‘lalai dari sholatnya’ (‘an sholaatihim saahun), Allah tidak mencela orang yang ‘lalai di dalam sholatnya’ (‘fii sholaatihim saahun’). Kalau orang yang ‘lalai dari sholat’, ia tidak perhatian sejak awal, tidak berusaha mempersembahkan ibadah yang terbaik, ini perbuatan orang munafikin. Sedangkan ‘lalai di dalam sholat’, bisa terjadi pada orang-orang beriman. Misalkan lupa jumlah rokaat yang telah dikerjakan dan berapa yang tersisa. Atau lupa saat membaca ayat al-Quran. Hal ini tidaklah termasuk yang dicela dalam ayat ini. Bahkan Nabi kita shollallahu alaihi wasallam sebagai manusia paling beriman, paling bertakwa, beliau juga pernah lupa di dalam sholatnya.

Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah sholat Dzhuhur 5 rokaat yang semestinya 4 rokaat (hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud). Beliau juga pernah sholat hanya 2 rokaat yang semestinya 4 rokaat. Setelah diingatkan, beliau menambah 2 rokaat dan sujud sahwi setelah salam (hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Beliau juga pernah sholat Ashar 3 rokaat, yang seharusnya 4 rokaat (hadits riwayat Muslim dari Imron bin Hushain). Beliau juga pernah lupa tidak melakukan tasyahhud awal di sholat Dzhuhur (hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Buhainah). Semua itu salah satu hikmahnya adalah untuk pengajaran kepada umat, apa yang harus dilakukan jika lupa dalam sholat, yaitu dengan melakukan sujud sahwi.

Nabi shollallahu alaihi wasallam juga pernah lupa dalam membaca al-Quran saat menjadi Imam.

عَنِ الْمُسَوَّرِ بْنِ يَزِيدَ الْأَسَدِيِّ الْمَالِكِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الصَّلَاةِ فَتَرَكَ شَيْئًا لَمْ يَقْرَأْهُ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَرَكْتَ آيَةَ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلَّا أَذْكَرْتَنِيهَا

Dari al-Musawwar bin Yazid al-Asadiy al-Malikiy bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam membaca dalam sholat kemudian beliau meninggalkan (ayat) yang tidak beliau baca. Maka seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, anda meninggalkan (tidak membaca) ayat ini dan ini. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Tidakkah engkau mengingatkan aku dengan (ayat itu)? (H.R Abu Dawud, dishahihkan Ibnu Hibban, dihasankan al-Albaniy)

Pada penjelasan perawi hadits itu (Sulaiman bin Abdirrohman ad-Dimasyqi) dinyatakan bahwa Sahabat itu tidak mengingatkan Nabi dalam sholat karena mengira ayat tersebut telah dimansukh (dihapus).

Dalam kesempatan lain Nabi juga sempat lupa saat membaca ayat al-Quran:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلُبِسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأُبَيٍّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا مَنَعَكَ

Dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu anhu- bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam pernah sholat kemudian beliau membaca (ayat) kemudian tersamarkan oleh beliau bacaan itu. Ketika selesai sholat, beliau berkata kepada Ubay (bin Ka’ab): Apakah engkau sholat bersama kami? Ubay menjawab : Ya. Nabi menyatakan: Apa yang menghalangimu (untuk mengingatkan ketika bacaan Imam salah)(H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan ad-Dhiyaa’ al-Maqdisiy)

Intinya, lupa dalam sholat bukanlah hal yang tercela dalam ayat ini. Namun, hendaknya seseorang mukmin mayoritas isi sholatnya adalah ingat kepada Allah. Kalaupun terlupa dan lalai mengingat hal yang lain, mestinya itu adalah bagian yang sedikit dalam sholatnya. Jangan seperti orang munafik yang mayoritas isi sholatnya lupa kepada Allah, hanya ingat Allah sedikit saja:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya kaum munafik menipu Allah dan Dia (Allah) membalas tipuan mereka. Jika mereka bangkit untuk sholat, mereka bangkit dengan malas, bersikap riya’ (memperlihatkan sholat ingin dipuji), dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali hanya sedikit (Q.S anNisaa’ ayat 142)

Sesungguhnya besarnya pahala yang didapat dalam sholat seseorang adalah tergantung seberapa banyak ia mengingat Allah (dzikir) dalam sholatnya.

Sahabat Nabi Ammar bin Yasir radhiyallahu anhu menyatakan:

لاَ يُكْتَبُ لِلرَّجُلِ مِنْ صَلاَتِهِ مَا سَهَا عَنْهُ

Tidaklah dicatat (sebagai pahala) dalam sholat seseorang ketika ia lalai (diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhud)

📚Referensi: Tafsir Juz Amma libni Utsaimin, Tafsir as-Sa’di, Tafsir Ibn Katsir, Buku Fiqh Bersuci dan Sholat, Buku Memahami Makna Bacaan Sholat.

<< dikaji dalam Ta’lim Ummahat Dzulhijjah 1436 H Majelis Ta’lim al-I’tishom Kraksaan Probolinggo >>

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom