📗Makna Surat al-Qoshosh ayat 68

❓Pertanyaan:

Mohon dijelaskan Ustadz, firman Allah Q.S al-Qashash: 68.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

(Artinya: dan Tuhanmu yang menciptakan sesuai dengan kehendakNya dan memilih…)

Bagaimana pemahaman Salaf terkait ayat tersebut yang bila dimaknai secara zhahir justru mendukung madzhab Jabriyyah?

✅ Jawaban:

Alhamdulillah, menyenangkan jika ada kajian yang terkait dengan makna ayat al-Quran sehingga kita bisa merujuk pada Tafsir para Ulama Ahlussunnah.

Kita bisa terjerumus kepada pemahaman yang menyimpang jika hanya membaca ayat-ayat yang mengarah pada suatu pemahaman bid’ah tertentu tanpa melihat pada ayat lain. Sebagaimana ungkapan dari sebagaian Ulama bahwa Ahlul Bid’ah melihat dalil dengan penglihatan orang yang buta sebelah. Mereka hanya melihat dalil-dalil yang mendukung pemahamannya saja. Sedangkan Ahlussunnah melihat dalil dengan penglihatan yang menyeluruh.

Jabriyyah adalah pemahaman sesat tentang takdir yang meyakini bahwa manusia atau makhluk tidak memiliki kehendak atau kemauan untuk berbuat. Mereka sekedar menjalankan takdir dari Allah tanpa ada kehendak dari mereka. Jabriyyah mengibaratkan makhluk bagaikan bulu yang beterbangan tertiup angin tanpa bisa menentukan arahnya sendiri.

Konsekuensinya adalah, jika seseorang berbuat dosa, jangan salahkan orang itu karena dia sekedar menjalankan takdir Allah. Konsekuensi yang lain dari pemahaman ini menimbulkan keyakinan bahwa Allah dzhalim kepada sebagian pihak yang Allah masukkan ke dalam anNaar (Neraka). Orang-orang itu diadzab padahal mereka hanya menjalankan takdirnya tanpa bisa berbuat apa-apa karena tidak memiliki kehendak. Ini adalah pemahaman yang sesat dan menyimpang.

Telah dimaklumi salah satu kaidah dalam menafsirkan ayat al-Quran berdasarkan pemahaman Salaf adalah penafsiran ayat dengan ayat yang lain.

Ayat lain menunjukkan bahwa makhluk memiliki irodah (keinginan) dan masyii-ah (kehendak) untuk berbuat. Dan itu ditetapkan dalam ayat-ayat lain dalam al-Quran, seperti:

…مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ…

..di antara kalian ada yang menginginkan dunia, dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat…(Q.S Ali Imran ayat 152)

فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا

Barangsiapa yang berkehendak silakan beriman, dan barangsiapa yang berkehendak silakan kafir. Sesungguhnya Kami sediakan bagi orang-orang dzhalim api (Naar)(Q.S al-Kahfi ayat 29)

Namun, memang kehendak mereka para makhluk tidak bisa keluar dari kehendak Allah Azza Wa Jalla. Sebagaimana dalam firmanNya:

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ (28) وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (29)

Bagi siapa yang berkehendak untuk istiqomah. Dan tidaklah mereka berkehendak kecuali sesuai dengan kehendak Allah Tuhan semesta alam (Q.S atTakwiir ayat 28).

Lalu apa makna surat al-Qoshosh ayat 68 tersebut?

Kita baca ayat tersebut secara lengkap dan kita sarikan penjelasan beberapa Ulama Ahlussunnah yang menafsirkan ayat tersebut:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan Tuhanmu yang menciptakan sesuai dengan kehendaknya dan memilih. Mereka tidak memiliki pilihan. Maha Suci Allah Ta’ala atas apa yang mereka persekutukan (Q.S al-Qoshshoh ayat 68)

Dalam menerjemahkan ayat itu ada perbedaan pendapat para Ulama tafsir tentang apa makna kata maa dalam kalimat maa kaana lahumul khiyarotu.

Ibnu Jarir atThobariy berpendapat bahwa makna kata maa di situ adalah bermakna alladzii (yang), sehingga kalau diterjemahkan menjadi: dan Tuhanmu yang menciptakan sesuai dengan kehendaknya dan memilih apa yang mereka pilih.

Sedangkan Ibnul Qoyyim dan Ibnu Katsir lebih cenderung pada pendapat bahwa maa di ayat itu maknanya adalah penafian atau “tidak”. Sehingga terjemahannya seperti pada kalimat di atas: Dan Tuhanmu yang menciptakan sesuai dengan kehendaknya dan memilih. Mereka tidak memiliki pilihan.

Sepertinya, wallaahu A’lam pendapat Ibnul Qoyyim dan Ibnu Katsir tersebut lebih tepat.

Lalu apa maksud bahwa “mereka tidak punya pilihan”, dalam ayat itu?

Ada beberapa penjelasan para Ulama:

Pertama, maknanya adalah: orang-orang beriman jika Allah telah menetapkan suatu ketetapan, maka tidak ada pilihannya kecuali mengikuti ketetapan Allah tersebut. Seperti dalam ayat:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

Dan tidak boleh bagi orang beriman laki dan wanita jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, mereka tidak memiliki pilihan dalam urusan mereka (Q.S al-Ahzab ayat 36)

Ini yang disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Artinya, jika di al-Quran atau hadits shahih disebutkan bahwa sesuatu haram, maka tidak ada pilihan bagi kaum beriman untuk memilih pilihan lain selain haram. Atau sebaliknya, jika telah ditetapkan halal, tidak ada pilihan bagi kaum beriman untuk memilihnya sebagai halal. Jika telah ditetapkan sesuatu sebagai kebatilan, tidak ada pilihan lain selain batil.

Kedua, orang-orang kafir itu tidak punya pilihan untuk memilih siapa yang paling berhak menjadi Rasul (utusan Allah).

Orang-orang kafir itu berkata: mengapa yang diutus adalah Muhammad, kok bukan al-Walid bin al-Mughiroh atau Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqofiy?

Mereka menyatakan:

لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآَنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

Mengapa al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang laki-laki yang agung dari dua kampung (Makkah dan Thaif) ? (Q.S az-Zukhruf ayat 31)

Maka Allah turunkan ayat itu untuk membantah orang-orang tersebut bahwa Allahlah Yang Menciptakan apa yang dikehendakiNya, yaitu Muhammad shollallahu alaihi wasallam dan memilih beliau sebagai utusanNya. Mereka (kaum kafir) itu sama sekali tidak punya pilihan dalam hal itu.

Ini sebagaimana penjelasan al-Baghowy dalam tafsirnya.

Ketiga, Allahlah satu-satunya yang bisa berbuat sesuai kehendakNya. Tidak ada satupun yang bisa menghalangi. Apa yang Allah kehendaki secara qodariy untuk terjadi, pasti terjadi. Sebaliknya, hal-hal yang tidak dikehendaki terjadinya oleh Allah, maka tidak akan terjadi.

Ini sebagaimana diisyaratkan Syaikh Ibn Utsaimin dalam sebagian karyanya.

Sedangkan makhluk, meski memiliki kehendak untuk berbuat, namun kehendaknya itu terbatas. Tidak jarang ia tidak mampu memenuhi keinginannya. Dalam hal ini mereka tidak punya kemampuan ‘memilih’ secara mutlak, tapi terbatas. Sebagaimana manusia tidak bisa memilih ia dilahirkan dari siapa, sakit atau sembuh dari sakitnya, ia tetap hidup atau ditakdirkan mati, dan semisalnya.

Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I’tishom