💐📕Minum dalam Sholat dan Istidraj

Tentang Sahabat Nabi yang minum saat sholat sunnah, beliau adalah Abdullah bin az-Zubair.

Al-Hakam bin Utaibah menyatakan:

رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ يَشْرَبُ وَهُوَ فِي الصَّلاَةِ

(diriwayatkan oleh Ali bin al-Ja’d dalam musnadnya dan Ibnul Mundzir dalam al-Awsath serta al-Imam Ahmad dalam Masaail anaknya Shalih dengan sanad yang shahih no periwayatan 1057, para perawinya adalah rijaal al-Bukhari dan Muslim).

al-Imam Ahmad menjelaskan bahwa hal itu dilakukan dalam sholat sunnah, sedangkan Ibnul Mundzir menyatakan bahwa kemungkinan hal itu dilakukan oleh Abdullah bin az-Zubair karena lupa.

Secara asal, janganlah minum dalam sholat meski itu sholat sunnah. Karena sholat itu adalah amalan yang menyibukkan dengan dzikir dan qiro’ah untuk bermunajat dengan Allah.

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ فِي الصَّلَاةِ لَشُغْلًا

Sesungguhnya di dalam sholat itu sesuatu yang menyibukkan (H.R al-Bukhari)

Nabi menyatakan hadits itu kepada Ibnu Mas’ud yang mengucapkan salam kepada beliau saat beliau sholat dan beliau tidak menjawab salam itu. Menunjukkan bahwa untuk menjawab salam saja tidak sempat karena sibuk dengan urusan dalam sholat, apalagi minum. Ini adalah kaidah secara asal.

Namun, Syaikh Ibn Utsaimin mengisyaratkan bahwa tidak mengapa sedikit minum dalam sholat sunnah yang panjang. Beliau menyatakan:

وأما الشرب فيسيره لا يبطل النفل ويبطل الفرض وهذا هو المشهور عند المتأخرين من الحنابلة وفرقوا بينهما بأنه روي عن الزبير بن العوام أو عبد الله بن الزبير أنه كان يشرب في النافلة وبأن النافلة أخف حكماً من الفريضة وبأن النافلة قد تطول فيحتاج الإنسان إلى الشرب اليسير فيها ولا سيما في أيام الصيف

Sedangkan minum yang sedikit tidaklah membatalkan sholat sunnah dan membatalkan sholat fardlu. Ini adalah pendapat yang masyhur menurut Ulama mutaakhirin dari kalangan Hanabilah. Mereka membedakan hal itu karena diriwayatkan dari az-Zubair dan al-‘Awwam atau Abdullah bin az-Zubair bahwasanya beliau minum dalam sholat sunnah. Karena sholat nafilah (sunnah) itu lebih ringan hukumnya dari sholat wajib. Dan karena sholat nafilah kadang panjang sehingga seseorang membutuhkan sedikit minum di dalamnya. Terutama di musim panas…(Ta’liqoot Ibn Utsaimin ‘alal Kaafii libni Qudamah (1/485)).

Namun, bolehnya minum pada sholat sunnah ini adalah pendapat dari sedikit para Ulama. Mayoritas (jumhur) Ulama tidak membolehkan. Sebagian menganggap atsar Abdullah bin az-Zubair itu tidak shahih (meski yang rajih shahih). Sebagian lagi menganggap beliau melakukannya dalam keadaan lupa bukan dalam keadaan sadar (seperti pendapat Ibnul Mundzir).

Jangan sampai nanti saat sholat tarawih (yang biasanya di masjid Ahlussunnah bacaannya panjang), seseorang ambil posisi dekat aqua gallon atau dus air mineral yang masih ada isinya. Kemudian saat sholat, jika dirasa haus ia ambil 1 gelas minuman, kemudian diminum. Rokaat berikutnya minum lagi… begitu seterusnya.. sampai saat selesai sholat rekan-rekannya mau minum, airnya sudah habis. Ketika ditanya, ia menjawab: Saya ikut pendapat Sahabat Ibnuz Zubair. Pikirnya, mumpung mayoritas ikhwah ikut pendapat Jumhur, cuma saya yang ikut pendapat Ibnuz Zubair. Kalau nunggu selesai sholat, takut keduluan habis airnya saya gak dapat bagian <<senyum >>

Jangan demikian…

Berikutnya, tentang istidraj pada seorang mukmin:

Istidraj akan terjadi pada seorang yang ‘ujub dan lupa bahwa ia mendapatkan semua karunia dari Allah. Istidraj akan terjadi pada seseorang yang tidak ikhlas, atau menjauh dari ilmu dan para Ulama.

Istidraj adalah bala’ (musibah). Akibat dari istidraj pasti buruk. Istidraj bukan untuk menghapus dosa. Justru istidraj menyebabkan seseorang semakin terpuruk tambah jauh dalam dosa. Wal iyaadzu billah.

Namun, bisa jadi seseorang awalnya mendapatkan istidraj, kemudian dia bertaubat kepada Allah, maka insyaAllah akhirnya adalah baik.

Wallaahu A’lam


(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom