📕🌷Orang yang Bertakwa dan Akhlaq Mulia

Pertanyaan dari group Whatsapp al-I’tishom-Paiton 23 Juli 2014:

❓ Ustadz...idzin bertanya: apakah penalaran seperti ini dibenarkan?:

1) Orang yang paling bertaqwa di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya...

2) Jika kalian bertaqwa maka Alloh akan :
2.a) memberi jalan keluar dari masalah-masalahnya
   b) memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka
   c) Alloh akan mencukupi setiap keperluannya.
   d) Alloh menjadikan setiap urusannya mudah...Sehingga...kesimpulannya kalau kita menginginkan poin 2.a sampai 2.d maka hari-hari perbaikan akhlak...hari Akhlak hari ini ditingkatkan lebih baik dari hari kemaren..Akhlak tahun ini lebih baik dari tahun kemaren...Jika ada sekumpulan orang dalam satu majelis maka kita berusaha sungguh-sungguh akhlaq kita terbaik di antara orang-orang di majelis tersebut.. Kalau ada 5 orang kumpul, maka berusaha akhlaq kita terbaik di antara 5 orang tersebut... Kalau ada 1000 orang kumpul maka kita berusaha sungguh-sungguh akhlak kita terbaik di antara 1000 orang tersebut... Sekali lagi pertanyaannya... Apakah boleh penalaran seperti itu?

✅ JAWABAN:

Istilah ‘akhlaq’ bisa bermakna umum dan bisa bermakna khusus. Dalam al-Quran dan hadits, kadangkala disebutkan yang bermakna umum dan adakalanya yang bermakna khusus. Untuk yang bermakna umum, akhlaq adalah ketakwaan dan ketakwaan adalah akhlaq itu sendiri.

Akhlaq dalam makna umum mencakup Dien seluruhnya, yaitu meliputi akidah Iman kepada Allah, dan seluruh sendi kehidupan Islam. Sedangkan penyebutan akhlaq dalam makna khusus adalah kebaikan perbuatan dan sikap kepada sesama hamba Allah. Seringkali orang hanya menyempitkan makna pada makna khusus itu saja dan melupakan makna akhlaq yang lebih luas.

Berikut ini adalah beberapa dalil yang menunjukkan penyebutan akhlaq dalam makna umum maupun makna khusus berdasarkan alQuran dan as-Sunnah sesuai pemahaman para Ulama Salaf:

📌 Makna Akhlaq Secara Umum

Akhlaq secara umum bermakna ajaran Dienul Islam seluruhnya. Hal ini sesuai firman Allah :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) sungguh berada di atas akhlaq yang agung (Q.S al-Qolam:4)

Apa makna ‘akhlaq’ dalam ayat di atas? Sebagian Ulama tafsir menjelaskan makna akhlaq pada ayat di atas adalah Dien. Sehingga artinya, sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh berada di atas Dien yang agung, yaitu Islam.
Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, demikian juga Mujahid, Abu Malik, as-Suddi, arRabi’ bin Anas, ad-Dhohhaak, dan Ibnu Zaid (lihat dalam tafsir Ibnu Katsir ketika menafsirkan surat al-Qolam ayat 4).

Demikian juga, akhlaq Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah alQuran. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

(قَالَ حَكِيم بْنِ أَفْلَح) يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ أَنْبِئِينِي عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَلَسْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ قُلْتُ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

Hakiim bin Aflah berkata: Wahai Ummul Mu’minin (Aisyah) : Beritahukan kepadaku tentang akhlaq Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Beliau berkata: Bukankah engkau membaca al-Quran? Aku berkata: Ya. Aisyah berkata: Sesungguhnya akhlaq Nabiyyullah shollalahu alaihi wasallam adalah al-Quran (H.R Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa akhlaq Nabi adalah alQuran. Sedangkan alQuran mencakup seluruh ajaran Islam termasuk tauhid dan keimanan.

Dalil lain yang menunjukkan makna umum dari akhlaq adalah gabungan antara hadits dan ayat berikut ini:
Dalam suatu hadits Nabi menyatakan:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ

Al-Birr (kebaikan) adalah akhlaq yang mulya (H.R Muslim)

Sedangkan dalam suatu ayat, Allah menjelaskan makna al-Birr :

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah disebut al-Birr jika (semata) kalian menghadapkan wajah kalian ke timur atau ke barat, akan tetapi al-Birr adalah barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, Malaikat, Kitab, dan para Nabi. Memberikan harta yang dicintainya kepada para karib kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, Ibnus Sabil, dan orang-orang peminta-minta, memerdekakan budak, menegakkan sholat, menunaikan zakat, menunaikan janji jika berjanji. Dan orang-orang yang bersabar ketika dalam keadaan faqir, sakit, atau dalam pertempuran. Mereka ini adalah orang-orang yang jujur (keimanannya) dan mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa (Q.S al-Baqoroh ayat 177).

Perhatikanlah hubungan antara hadits dengan ayat di atas. Disebutkan Nabi bahwa al-Birr adalah akhlaq mulya, sedangkan dalam ayat tersebut Allah menjelaskan makna al-Birr yang mencakup akidah dan keimanan, berbuat baik dengan harta, menegakkan sholat, menunaikan zakat, yang merupakan syariat, serta menunaikan janji dan bersabar. Bagi yang menunaikannya disebut sebagai orang yang bertakwa. Itulah cakupan akhlaq yang mulya yang merupakan al-Birr. Sehingga cakupan akhlaq mulya adalah meliputi seluruh sendi Dienul Islam.

📌 Makna Akhlaq Secara Khusus

Beberapa hadits juga menunjukkan makna akhlaq secara khusus. Makna akhlaq secara khusus itu adalah sikap baik kepada sesama manusia. Jika pada ayat di atas makna umum akhlaq juga mencakup ketakwaan kepada Allah, namun pada makna yang khusus akhlaq yang mulya dibedakan penyebutannya dari ketakwaan. Ketakwaan adalah yang terkait hubungan dengan Allah sedangkan akhlaq mulya terkait dengan sesama manusia. Hal ini sebagaimana dalam hadits:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kepada Allah di manapun kalian berada, dan ikutkanlah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskan keburukan. Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik (H.R Ahmad, atTirmidzi)
Demikian juga dengan hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam ditanya tentang hal yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menyatakan: Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulya (H.R Ahmad, atTirmidzi, dishahihkan Ibnu Hibban dan dihasankan al-Albany)

Dua hadits ini menunjukkan makna akhlaq secara lebih khusus yang berbeda dari ketakwaan. Ketakwaan adalah terkait hubungan dengan Allah, sedangkan akhlaq terkait hubungan dengan sesama manusia.

📌 Akhlaq Harus Berdasarkan Ilmu

Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ إِسْلَامًا أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا إِذَا فَقِهُوا

Sebaik-baik kalian keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya jika ia faqih (berilmu dan paham terhadap Dien) (H.R Ahmad, al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dari Abu Hurairah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany)

Hadits di atas menunjukkan bahwa akhlaq mulya dalam Islam harus berdasarkan ilmu. Ia harus mengetahui Sunnah-Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam yang shahihah. Karena teladan dalam akhlaq yang mulya adalah Nabi shollallahu alaihi wasallam.

📌 Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

Berikut ini adalah penjabaran beberapa kesalahpahaman terkait akhlaq yang sering terjadi.

Akhlaq mulya sering diinterpretasikan secara sempit. Sehingga akhlaq mulya hanya diperuntukkan bagi sesama manusia. Padahal akhlaq mulya juga mencakup akhlaq mulya kepada Allah, kepada Nabi-Nya, dan mencakup seluruh sendi Dienul Islam.

Sering kali orang menganggap akhlaq fulaan mulya karena sering berbuat baik pada sesama, banyak menolong, tapi ia sering berbuat kesyirikan dengan memakai jimat atau melakukan praktek perdukunan yang meniadakan akhlaq baiknya kepada Allah. Atau ia sering berbuat kebid’ahan yang juga menunjukkan akhlaq buruknya kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

Padahal kesyirikan akan menyebabkan hilangnya seluruh amal kebaikan.

...لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

…Seandainya engkau berbuat kesyirikan, sungguh niscaya akan terhapus amalanmu, dan sungguh engkau termasuk orang yang merugi (Q.S az-Zumar ayat 65)

Demikian juga orang yang terjatuh dalam kekafiran yang mengeluarkan dari Islam, sebaik apapun akhlaqnya kepada sesama manusia, kalau ia kafir, maka tidak akan bermanfaat sama sekali. Pernah Aisyah radhiyallahu anha bertanya kepada Nabi, bagaimana nasib Ibnu Jud’aan di akhirat nanti, yang dulunya dia di masa Jahiliyyah adalah orang yang secara akhlaq kepada sesama manusia sangat baik: menghubungkan silaturrahmi dan banyak memberi orang miskin. Tapi Nabi menyatakan bahwa ia sama sekali tidak akan mendapatkan manfaat dari kebaikannya itu di hari akhirat karena secara akidah ia tidak benar. Ia tidak pernah berdoa Wahai Tuhanku, ampunilah kesalahanku pada saat hari pembalasan nanti.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ لَا يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- beliau berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, Ibnu Jud’aan dulu di masa Jahiliyyah adalah orang yang menyambung silaturrahmi, memberi makan kaum miskin, apakah hal itu memberikan manfaat kepadanya? Nabi menjawab: Tidak bermanfaat baginya. Karena ia tidak pernah berucap: Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku pada hari pembalasan nanti (H.R Muslim)

al-Imam anNawawi menjelaskan makna hadits ini:

معنى هذا الحديث أن ما كان يفعله من الصلة والاطعام ووجوه المكارم لا ينفعه في الآخرة لكونه كافرا وهو معنى قوله صلى الله عليه و سلم لم يقل رب اغفر لي خطيئتي يوم الدين أى لم يكن مصدقا بالبعث ومن لم يصدق به كافر ولا ينفعه عمل

Makna hadits ini adalah bahwa apa yang telah dilakukan (Ibn Jud’an) berupa menyambung silaturrahmi, memberi makan dan berbagai kedermawanan tidaklah memberikan manfaat baginya di akhirat karena ia kafir. Itulah makna sabda Nabi shollallahu alaihi wasallam: Ia tidak pernah mengucapkan Wahai Tuhanku ampunilah dosaku pada hari pembalasan. Maksudnya, ia tidak percaya terhadap hari kebangkitan. Barangsiapa yang tidak mempercayainya maka ia kafir dan tidak bermanfaat amalan terhadapnya (syarhun nawawi Ala Shahih Muslim (3/87)).

Demikian juga seseorang yang asalnya muslim, kemudian berakidah dengan akidah yang menyimpang, seperti mengingkari takdir, maka tidak akan bermanfaat apapun amal kebajikannya. Tidak akan diterima amal ibadahnya meski ia banyak baca al-Quran dan berbagai kebaikan lainnya seperti banyak bershodaqoh dan banyak memberi, jika akidahnya menyimpang.

Hal ini sebagaimana yang terjadi pada kisah pertemuan Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdirrohman dengan Sahabat Nabi Ibnu Umar. Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdirrohman berasal dari Bashrah. Di Bashrah terdapat seorang yang dikenal Ahli Ibadah namun mengingkari takdir yang bernama Ma’bad al-Juhany. Yahya dan Humaid kemudian sengaja berumrah atau haji dengan tujuan ingin berjumpa dengan Sahabat Nabi dan menanyakan tentang keadaan orang yang berakidah seperti akidah Ma’bad al-Juhany. Ternyata mereka bertemu dengan Sahabat Nabi Ibnu Umar.

Ketika bertemu Ibnu Umar, Yahya bin Ya’mar berkata:

إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ

Sesungguhnya di tempat kami terdapat orang yang banyak membaca al-Quran dan (terlihat) semangat mencari ilmu. Namun di antara sifat mereka adalah mereka menyangka bahwa tidak ada takdir (Allah) dan sesungguhnya segala sesuatu terjadi begitu saja (tanpa ada takdir yang diketahui Allah sebelumnya)

Maka Ibnu Umar radhiyallahu anhu kemudian berkata:

فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللَّهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

Jika engkau bertemu orang-orang itu, sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi (Allah) yang Abdullah bin Umar bersumpah denganNya, kalau seandainya salah seorang dari mereka menginfakkan emas sebesar Uhud, Allah tidak akan menerima darinya hingga ia beriman dengan takdir (H.R Muslim).

Setelah menyampaikan hal itu kemudian Ibnu Umar meriwayatkan hadits Jibril tentang Islam, Iman, dan Ihsan.
Hadits di atas memberikan banyak pelajaran penting kepada kita, di antaranya adalah bahwa seorang yang banyak beribadah atau berbuat baik banyak memberi (seandainya berinfak sebesar gunung Uhud), tidak akan diterima jika akidahnya menyimpang. Faidah lain adalah kita belajar salah satu akhlaq Sahabat Nabi. Tidak setiap akhlaq ditafsirkan dengan lemah lembut selalu. Akhlaq yang baik adalah sikap yang tepat di saat yang tepat pada orang yang tepat. Kita lihat akhlaq Ibnu Umar di atas, beliau berkata keras dan tegas kepada orang yang akidahnya menyimpang. Beliau membantah dengan keras kesesatannya. Hal itu adalah bagian dari akhlaq mulya. Tentunya kita tidak akan menyatakan bahwa akhlaq para Sahabat Nabi adalah akhlaq yang buruk, justru akhlaq mereka adalah teladan kita. Karena Sahabat Nabi adalah murid langsung Rasulullah shollallahu alaihi wasallam.

Kita mengambil faidah juga dari hadits Ibnu Umar di atas bahwa agama Islam ini juga memiliki prinsip amar ma’ruf dan nahi munkar. Bukan seperti anggapan sebagian orang yang hanya amar ma’ruf saja dan meninggalkan nahi munkar. Hanya mengajarkan yang baik-baik saja tidak pernah menyinggung bantahan terhadap penyimpangan dan kesesatan. Ibnu Umar dalam hadits itu secara tegas bersikap nahi munkar.

📌 Definisi Taqwa

Termasuk hal yang perlu diperjelas untuk bisa menjawab pertanyaan di atas adalah definisi taqwa. Salah satu definisi terbaik taqwa adalah yang dijabarkan oleh seorang tabi’i (murid Sahabat Nabi) yang bernama Thalq bin Habiib, bahwa taqwa adalah:

العمل بطاعة الله، على نور من الله، رجاء ثواب الله، وترك معاصي الله، على نور من الله، مخافة عذاب الله

Mengamalkan ketaatan kepada Allah, berdasarkan cahaya dari Allah (ilmu), dengan mengharap pahala Allah (ikhlas). Dan meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, berdasarkan cahaya dari Allah (ilmu), karena takut adzab Allah (ikhlas) (Siyaar A’laamin Nubalaa’    (4/601)).

Para Ulama menjelaskan definisi taqwa menurut penjelasan Thalq bin Habiib itu bahwa ketakwaaan itu berupa menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sikap itu didasarkan oleh ilmu (cahaya dari Allah) dan keikhlasan. Seseorang tidak bisa bertakwa kalau tidak berilmu. Dengan ilmu ia baru tahu apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilarangnya. Jangan sampai ia meninggalkan sesuatu yang dianggapnya dilarang Allah padahal Allah tidak melarangnya. Jangan sampai pula ia melakukan sesuatu dengan anggapan itu diperintahkan Allah, padahal Allah tidak memerintahkannya bahkan justru melarangnya. Kesalahan itu akan terjadi jika ia tidak berilmu.

Ketakwaan juga harus mengandung keikhlasan. Menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan hanya karena Allah, bukan karena yang lain. Ia beribadah untuk mendapatkan pahala Allah semata, dan menjauhi kemaksiatan karena takut dari adzab Allah.

📌 Kesimpulan

Orang yang terbaik dalam suatu majelis atau sekumpulan orang adalah orang yang paling bertakwa saat itu dan menjalankan sunnah Nabi yang paling sesuai untuk saat itu.

Contoh:

Dalam sholat berjamaah, orang yang terbaik dan paling besar pahalanya dalam jamaah itu adalah orang yang sholatnya paling ikhlas, paling sesuai dengan tuntunan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan paling khusyu’ mengingat Allah dalam sholatnya.

Contoh lain:

Di pasar terdapat sekian banyak orang yang berkumpul. Orang yang terbaik dari seluruh orang di pasar itu adalah orang yang paling tepat dalam menjalankan sunnah Nabi di tempat itu di waktu itu, seperti doa masuk pasar, menjalankan transaksi yang tidak bertentangan dengan syar’i, tidak terlibat dalam riba, tidak menjual di atas penjualan saudaranya, tidak membeli di atas pembelian saudaranya, mudah dan ramah dalam menjual dan membeli, dan lain-lain. Ia berdzikir kepada Allah saat banyak orang yang lalai. Intinya, yang paling bertakwa dan paling sesuai dengan tuntunan Nabi, maka itulah orang yang terbaik di setiap tempat dan keadaan.

Untuk menjadi orang yang semakin baik dari hari ke hari dan semakin meningkat ketakwaannya adalah dengan meningkatkan ilmu yang shahih. Ilmu yang shahih yang bermanfaat, akan menjadikan orang itu semakin bertakwa. Telah dijelaskan dalam paparan di atas bahwa baik ketakwaan maupun akhlak kedua-duanya tidak lepas dari parameter ilmu. Takwa butuh ilmu sesuai penjelasan Thalq bin Habiib di atas. Akhlak juga butuh ilmu sesuai hadits Abu Hurairah riwayat Ahmad dan al-Bukhari di atas bahwa orang yang terbaik adalah yang paling baik akhlaknya jika ia faqih (berilmu).

Demikian, Wallaahu A’lam bisshowaab….
 
(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom