📕🔥PRASANGKA BURUK DAN TABAYYUN

❓Pertanyaan Sebelumnya di Grup WA al-I’tishom (27 Feb 2015):

Katakanlah saya telah berprasangka menuduh dan atau menyebarkan berita bahwa seseorang telah ikut aliran kejawen, menuduh dan atau meyebarkan bahwa beliau tidak shalat sesuai syariat. Shalatnya hanya "eling" saja, tempat shalatnya banyak jimat atau rajahnya dan beliau mempunyai keyakinan "manunggaling kawulo kelawan gusti",... dan lain sejenisnya.. Ternyata apa yang saya prasangkakan salah.. setelah bertemu beliau langsung dan YAQIN ternyata dia shalat lima waktu dan dia TIDAK punya keyakinan yang aneh-aneh itu... ternyata berita yang saya dengar bohong belaka karena saya ngapunten, males tabayun SENDIRI. apakah saya terkena teguran

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi di jalan Allah, maka lakukanlah tabayyun"

Kepada beliaunya mungkin saya bisa bertemu lagi dan meminta maaf atas kesalahan prasangka saya, tetapi terhadap orang-orang yang sudah terlanjur saya sebarkan berita bohong; saya kesulitan (perasaan males) mencari satu persatu untuk minta maaf atas berita bohong yang saya sebarkan.. mohon arahan...

Mohon nasehat, arahan dan bimbingan...

Jazakallahu khairan...

✅ Jawaban:

Alhamdulillah, segenap puji hanya milik Allah semata. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam, para Sahabat, dan pengikutnya hingga menjelang hari kiamat.

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka (dzhon). Karena sebagian prasangka itu dosa…(Q.S al-Hujurat:12)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa sebagian prasangka adalah dosa. Mengapa disebut ‘sebagian’ prasangka? Para Ulama menjelaskan bahwa memang tidak semua prasangka itu berdosa.

📌 Prasangka apa yang tidak berdosa dan apa yang berdosa?

Prasangka yang tidak berdosa adalah prasangka baik kepada seseorang yang secara dzhahir (lahiriah) menunjukkan bahwa dia adalah seorang muslim yang baik. Tidak ada indikasi apapun yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang buruk, maka berprasangka baiklah kepadanya.

Jika saudara kita muslim yang secara asal baik, mengucapkan suatu ucapan yang mengandung dua kemungkinan. Satu kemungkinan baik, dan satu kemungkinan buruk, maka arahkan pada kemungkinan yang baik.

Umar bin al-Khottob radhiyallahu anhu menyatakan:

ولا تظنن بكلمة خرجت من أخيك سوءا تجد لها في الخير مدخلا وضع أمر أخيك على أحسنه حتى يأتيك منه ما يغلبك

Dan janganlah sekali-kali engkau berprasangka terhadap suatu kata yang diucapkan saudaramu dengan prasangka buruk (selama) engkau masih mendapati adanya kemungkinan baik. Letakkan perkara saudaramu pada (kemungkinan) yang terbaik hingga datang (khabar yang meyakinkan) yang mengalahkanmu (dari prasangka baik itu) (riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq dan al-Khothib al-Baghdadiy dalam al-Muttafaq wal muftaraq)

Prasangka buruk juga adakalanya diperbolehkan jika memang ada indikasi-indikasi kuat yang dibenarkan, yang mengarah ke sana.

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah menyatakan:

ظن السوء لا يجوز إلا إذا قامت القرينة على وجوده

Prasangka buruk tidak boleh kecuali jika telah jelas indikasi yang menunjukkan adanya hal tersebut (Tafsir surat al-Hujurat libni Utsaimin)

Jika telah ada indikasi-indikasi tersebut, sekedar berprasangka boleh, namun jangan sampai mengatakan dan menyebarkannya bukan kepada orang-orang yang berwenang. Cukup dalam hati sambil mengambil langkah-langkah kewaspadaan yang diperlukan.

Sufyan ats-Tsauriy rahimahullah menyatakan:

الظَّنُّ ظَنَّانِ فَظَنٌّ إِثْمٌ وَظَنٌّ لَيْسَ بِإِثْمٍ فَأَمَّا الظَّنُّ الَّذِي هُوَ إِثْمٌ فَالَّذِي يَظُنُّ ظَنًّا وَيَتَكَلَّمُ بِهِ وَأَمَّا الظَّنُّ الَّذِي لَيْسَ بِإِثْمٍ فَالَّذِي يَظُنُّ وَلَا يَتَكَلَّمُ بِهِ

Prasangka itu ada dua. Yang pertama adalah berdosa, yaitu berprasangka dan berbicara dengan prasangka itu. Prasangka yang lain adalah tidak berdosa, yaitu berprasangka tapi tidak berbicara (disebutkan atTirmidzi dalam Sunannya dan diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliyaa’)

Kalau sampai kita berbicara berdasarkan persangkaan buruk, padahal tidak ada indikasi yang benar yang bisa dijadikan patokan, maka itulah yang termasuk dalam kategori “berita yang paling dusta” yang disebut dalam hadits:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

Hati-hatilah kalian dari persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu adalah berita yang paling dusta (H.R al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Sebagai contoh, ada tetangga baru di lingkungan kita. Ia terlihat berjenggot dan tidak isbal (celana di atas mata kaki), dan istrinya juga bercadar. Kemudian seseorang berprasangka bahwa ia terlibat ISIS atau al-Qaidah dan disampaikannya kepada tetangga yang lain. Maka ini adalah prasangka dan “berita yang paling dusta”. Tidak ada indikasi kuat yang dibenarkan untuk berprasangka demikian sekedar karena orang itu berjenggot, tidak isbal, dan istrinya bercadar. Justru itu adalah indikasi dia di atas Sunnah. Harus ada indikasi kuat lain yang bisa dijadikan pegangan bahwa ia diduga kuat terlibat ISIS, misalkan adanya simbol-simbol ISIS di kendaraan atau sengaja dia tempel di rumahnya, dan pernahnya dia menawarkan bacaan-bacaan tulisan tokoh-tokoh ISIS dan memujinya, atau indikasi kuat yang lain.

Termasuk seperti kasus yang dicontohkan dalam pertanyaan. Jika ada orang yang kita sangka dan bahkan dituduhkan terlibat kejawen, padahal tidak ada indikasi kuat yang bisa dijadikan pegangan atas prasangka itu, dan prasangka itu telah tersebar, maka itu dosa besar. Apalagi jika terbukti bahwa yang diprasangkakan adalah salah besar. Orang Indonesia mengatakan itu adalah fitnah. Dalam bahasa Arab disebut buhtaan.

Buhtaan dosanya lebih besar dari ghibah, padahal ghibah sudah dosa besar. Kalau ghibah, kita menyebutkan keadaan orang itu secara apa adanya, bahwa dia itu anaknya banyak, kalau berjalan agak pincang, dan sebagainya. Apa yang disampaikan sama persis dengan keadaan yang ada pada orang itu. Cuma, kalau orang yang kita bicarakan itu tidak senang jika mendengar hal itu dibicarakan, maka itu adalah ghibah. Sedangkan buhtaan, kita berdusta tentang dia. Apa yang tidak ada pada dia, kita sampaikan bahwa ia begini dan begini. Bahwa dia ikut ISIS padahal tidak. Bahwa ia kejawen, padahal bukan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu anhu- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berkata: Apakah kalian tahu apa itu ghibah? Para Sahabat berkata: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Nabi menyatakan: engkau menyebut tentang saudaramu apa yang dia benci. Ditanyakan (kepada Nabi): Bagaimana pendapat anda jika apa yang saya ucapkan itu memang ada pada saudara saya tersebut? Nabi menyatakan: Jika hal itu ada seperti yang engkau ucapkan, maka engkau telah ghibah terhadapnya. Jika engkau ucapkan sesuatu yang tidak ada padanya, berarti engkau telah melakukan buhtaan terhadapnya (H.R Muslim)

📌 Bagaimana cara bertaubat dari buhtaan?

Syaikh Ibn Utsaimin rahimahullah dalam Fataawa Nuurun alad Darb menjelaskan bahwa cara bertaubat dari buhtaan sama dengan cara bertaubat dari ghibah. Ada dua keadaan:

Keadaan pertama, orang yang jadi sasaran buhtaan kita tidak tahu bahwa telah terjadi buhtaan terhadap dia. Dalam hal ini kita memohonkan ampunan Allah untuknya, banyak memuji kebaikan dia/ mengklarifikasi kesalahan yang terjadi di majelis-majelis tempat kita pernah menyampaikan buhtaan tentang dia.

Jangan malas untuk menyebarkan klarifikasi yang benar, karena itu adalah konsekuensi dari kesungguhan taubat kita. Bisa disebar dengan berbagai media: sms, WA, email, dan sebagainya kepada orang-orang yang telah kita sampaikan berita dusta tersebut. Jika kita telah berusaha maksimal untuk mengklarifikasi itu namun ada beberapa orang yang luput karena tidak diketahui lagi alamat dan nomor kontaknya, maka InsyaAllah Allah akan mengampuni karena kesungguhan taubat kita.

Keadaan kedua, orang yang jadi sasaran buhtaan itu mengetahui hal itu. Maka kita harus meminta maaf dan minta dihalalkan dari kesalahan tersebut.

📌 Tabayyun/ Klarifikasi

Jika ada berita dari orang yang fasiq tentang seseorang, kita harus bertabayyun (klarifikasi kebenaran berita) kepada yang bersangkutan. Misalkan ada orang yang mengatakan bahwa fulaan itu adalah kejawen, sedangkan yang menyampaikan adalah orang fasiq (banyak berbuat dosa), maka kita tidak bisa langsung menerimanya. Kita harus tabayyun, mencari info sebenarnya lebih jauh.

Karena Allah memerintahkan kepada kita agar bertabayyun jika ada berita dari orang yang fasiq:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan membawa berita, maka bertabayyunlah…(Q.S al-Hujuraat ayat 6)

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah menyatakan:

... الواجب عند خبر الفاسق، التثبت والتبين، فإن دلت الدلائل والقرائن على صدقه، عمل به وصدق، وإن دلت على كذبه، كذب، ولم يعمل به، ففيه دليل، على أن خبر الصادق مقبول، وخبر الكاذب، مردود

…Yang wajib dilakukan terhadap berita dari orang fasiq adalah tatsabbut dan tabayyun. Jika petunjuk dan indikasi menunjukkan pada kebenarannya, maka beramal dengan kabar itu dan membenarkan. Jika menunjukkan pada kedustaannya, maka didustakan dan tidak beramal dengan berita itu. Dalam ayat ini terkandung dalil bahwa kabar dari orang yang jujur diterima, sedangkan kabar dari pendusta ditolak (Taisiir Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannan (1/799))

Jadi, terhadap berita yang datang, ada 3 keadaan yang perlu kita lakukan berdasarkan bimbingan al-Quran dan pengamalan para Sahabat dan Ulama Salaf setelahnya:

1. Jika yang menyampaikan kabar adalah orang yang terpercaya, dikenal jujur, maka diterima kabar itu.

2. Jika yang menyampaikan kabar adalah pendusta, maka ditolak berita itu.

3. Jika yang menyampaikan kabar adalah orang fasiq, maka tabayyun terhadap kebenaran berita itu.

Para Sahabat Nabi menerima kabar dari satu orang yang terpercaya tanpa harus tabayyun terlebih dahulu. Sebagai contoh, saat telah turun wahyu untuk memindah arah kiblat, sebagian Sahabat sudah tahu bahwa telah turun wahyu untuk memindah arah kiblat. Sedangkan sebagian masjid masih belum tahu. Pada waktu Subuh sebagian Sahabat di suatu masjid sholat menghadap arah kiblat yang lama. Tiba-tiba datang satu orang Sahabat mengkhabarkan kepada seluruh jamaah yang sedang sholat bahwa kiblat telah berpindah. Sontak, segera saat itu juga saat masih dalam posisi sholat, para jamaah merubah posisinya menghadap ke kiblat yang baru. Mereka tidak tabayyun dulu: Oh sudahlah, sholat tetap ke kiblat yang lama, nanti selesai sholat kami akan menghadap ke Nabi dan tabayyun apa benar berita itu. Hal itu menunjukkan bahwa kabar dari satu orang yang terpercaya sudah cukup, tanpa harus bertabayyun sebagai suatu keharusan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ بَيْنَا النَّاسُ بِقُبَاءٍ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ إِذْ جَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أُنْزِلَ عَلَيْهِ اللَّيْلَةَ قُرْآنٌ وَقَدْ أُمِرَ أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْكَعْبَةَ فَاسْتَقْبِلُوهَا وَكَانَتْ وُجُوهُهُمْ إِلَى الشَّأْمِ فَاسْتَدَارُوا إِلَى الْكَعْبَةِ

Dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Ketika manusia di Quba’ sedang sholat Subuh, tiba-tiba datang seorang berkata: Sesungguhnya Rasulullah shollallahu alaihi wasallam tadi malam telah diturunkan al-Quran, beliau diperintah untuk menghadap ke arah Ka’bah, maka menghadaplah ke arah Ka’bah. Sebelumnya wajah mereka (yang sholat) menghadap ke arah Syam, kemudian langsung berputar menghadap ke arah Ka’bah (H.R al-Bukhari)

Demikian juga, saat turun wahyu tentang larangan khamr, sebagian Sahabat pada waktu itu masih sedang menikmati hidangan khamr. Tapi ketika ada satu orang terpercaya datang menyampaikan bahwa khamr telah dilarang, mereka segera bertindak memecahkan tempat-tempat minum berisi khamr. Mereka tidak kemudian tabayyun dulu apa benar sih Nabi melarangnya. Saya akan datang ke Nabi dulu untuk tanya. Tidak demikian.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ أَسْقِي أَبَا طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيَّ وَأَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ شَرَابًا مِنْ فَضِيخٍ وَهُوَ تَمْرٌ فَجَاءَهُمْ آتٍ فَقَالَ إِنَّ الْخَمْرَ قَدْ حُرِّمَتْ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ يَا أَنَسُ قُمْ إِلَى هَذِهِ الْجِرَارِ فَاكْسِرْهَا قَالَ أَنَسٌ فَقُمْتُ إِلَى مِهْرَاسٍ لَنَا فَضَرَبْتُهَا بِأَسْفَلِهِ حَتَّى انْكَسَرَتْ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata: Saya sedang menghidangkan minuman untuk Abu Tholhah al-Anshariy, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan Ubay bin Ka’ab minuman (khamr) dari perasan kurma. Tiba-tiba datang seseorang berkata: Sesungguhnya khamr telah dilarang. Maka Abu Tholhah berkata: Wahai Anas berdirilah dengan membawa bejana ini dan pecahkanlah. Anas berkata: Maka saya bangkit menuju lesung kami kemudian kami pukulkan pada bagian bawahnya hingga bejana itu pecah (H.R al-Bukhari)

Demikianlah sikap para Sahabat Nabi yang menerima kabar dari orang terpercaya.

Demikian juga seharusnya yang kita lakukan. Jika ada seorang ‘alim yang dikenal kokoh dan terpercaya dalam keilmuannya menjelaskan kesesatan sebuah kelompok atau seseorang, apalagi jika ditunjang dengan bukti-bukti pada kitab-kitab karya orang atau pimpinan kelompok tersebut dengan hujjah yang kuat, maka kita pun menerimanya, tidak diharuskan tabayyun terlebih dahulu.

Sebagai contoh, ketika Syaikh al-Albaniy menyatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah mu’tazilah abad ini. Maka kitapun menerima hal itu. Apalagi setelah terbukti dalam karya-karya pendirinya yang menolak hadits-hadits Ahad dalam masalah akidah, seperti yang dilakukan Mu’tazilah.

Ketika Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali menjelaskan kesesatan pemikiran Sayyid Quthb secara rinci dan ditunjukkan bukti-bukti tulisannya dalam karya-karya Sayyid Quthb, seperti pada tafsir fii Dzhilaalil Qur’aan, maka itu sudah cukup bagi kita. Tidak perlu kita-kita yang kemampuan bahasa Arabnya minim, kekokohan manhajnya kurang, kemudian mencoba-coba mengkaji lagi tulisan-tulisan Sayyid Quthb dengan alasan saya mau tabayyun dulu. Justru dikhawatirkan kita yang tidak punya pondasi ilmu yang kuat ketika membacanya akan terpengaruh dengan pemikiran sesat itu tanpa disadari. Apalagi, jika ternyata penjelasan Syaikh Rabi’ itu juga didukung oleh para Ulama Ahlussunnah lain yang juga terpercaya.

Demikian juga pada kelompok-kelompok menyimpang yang lain. Jika sudah ada seorang ‘alim yang menunjukkan bukti-bukti dari tulisan pendiri kelompok itu, atau pernyataan dari tokoh kelompok itu, dan bukti-bukti lainnya, hal itu sudah cukup sebagai khabar dari orang yang terpercaya. Terlebih lagi jika bukan hanya satu Ulama terpercaya yang menyampaikan, tapi lebih dari satu bahkan banyak, maka tidak ada alasan lain bagi kita kecuali menerimanya. Tidak diperlukan lagi tabayyun, sebagaimana yang telah diamalkan oleh para Sahabat Nabi dan Ulama Salaf setelahnya.

Wallaahu A’lam.

Semoga penjelasan ini bermanfaat. Waffaqallahul Jamii’ lima yuhibbuhu wa yardhoohu.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom