💐📕Pertanyaan tentang Shof Sholat Berjamaah

Menjawab pertanyaan pada 17 Feb 2015 yang lalu:

1⃣. Ketika sholat berjamaah, terkadang seorang imam terlalu cepat saat bersujud. Sehingga seringkali terlewat berdoa dgn doa tambahan di dalamnya. Lalu, bolehkah makmum bersujud agak lama dan lambat mengikuti Imam demi membaca doa-doa tambahan di saat sujud, dan seberapa lama batasannya?

Jawab:
Disunnahkan bagi makmum untuk bersegara mengikuti Imam. Jika Imam bertakbir, ia segera bertakbir mengikuti. Sebagaimana dalam hadits:

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا

Sesungguhnya seseorang dijadikan sebagai Imam untuk diikuti. Maka jika ia bertakbir, bertakbirlah. Jika ia rukuk, rukuklah. Jika ia sujud, sujudlah (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Maka, semestinya makmum bersegera mengikuti Imam dalam gerakannya. Apalagi jika sekedar untuk menambah doa-doa yang sunnah.

2⃣. Dalam sholat berjamaah merapatkan shaf adalah keutamaan. Bagaimana sifat rapat yang benar? Karena sering didapati ada sebagian yang hanya bersentuhan ujung jari kaki saja, serta apa yang menjadi poros posisi lurus, mata kaki atau ujung kaki.

Jawab:
Yang sempurna adalah jika bahu rapat dengan bahu, sisi samping lutut rapat dengan sisi samping lutut, dan mata kaki rapat dengan mata kaki.

Sahabat Nabi an-Nu’man bin Basyir menceritakan perbuatan para Sahabat Nabi dalam shaf sholat mereka yang dilihatnya:

فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ

Maka saya melihat seseorang melekatkan pundaknya dengan pundak temannya, (samping) lututnya dengan (samping) lutut temannya dan mata kakinya dengan mata kaki temannya (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany dan Syaikh al-Albany)

Namun, jika tidak bisa sempurna persis seperti dalam hadits di atas (karena kadangkala pundak tidak bisa bertemu dengan pundak karena tinggi seseorang berbeda, lutut juga tidak sejajar karena panjang kaki berbeda), paling tidak bisa rapat antar satu orang dengan orang yang di sampingnya dan tidak ada celah di antara keduanya. Arah merapatkan adalah ke posisi Imam. Bagi makmum yang berada di kanan Imam, merapatnya adalah ke kiri. Sebaliknya, yang berada di kiri Imam, merapatnya adalah ke kanan. Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam syarh Sunan Abi Dawud.

Merapatkan shaf dilakukan dengan tidak saling menyakiti satu sama lain

…وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ...

Dan lunaklah terhadap saudara-saudara kalian (yang berada di samping) (H.R Abu Dawud)

Yang menjadi patokan untuk meluruskan adalah matakaki dan pundak hingga bisa sejajar sebagaimana hadits di atas. Bukan ujung jari, karena panjang jari dan panjang telapak kaki masing-masing manusia berbeda.

Agar memudahkan rapat, maka ujung jari kaki mestinya diarahkan menghadap kiblat, dan masing-masing makmum tidak terlalu merenggangkan jarak antar kedua kakinya.

3⃣. Saat sholat berjamaah satu Imam dengan dua makmum, jika tiba-tiba datang makmum berikutnya. Di posisi mana lebih afdhal. Di kiri atau kanan? Demikian seterusnya jika datang makmum berikutnya di posisi kiri atau kanan? Karena ada sebagian yang selalu menambah sebelah kanan saja setiap ada makmum berikutnya yang datang.

Jawab:
Semestinya, dalam sholat berjamaah Imam berada di depan dan posisinya di tengah. Jumlah makmum yang di kanan Imam sama dengan jumlah yang di sebelah kiri. Itu yang paling utama.

Hal ini berdasarkan hadits:

... وَسِّطُوا الْإِمَامَ ...

…Jadikanlah Imam berada di tengah…(H.R Abu Dawud dari Abu Hurairah).

Demikianlah yang difatwakan oleh Syaikh Sholih al-Fauzan (al-Muntaqa min Fataawa al-Fauzan no fatwa 55 pada pembahasan tentang sholat).

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menyatakan bahwa hadits tersebut sebenarnya dhaif karena ada dua perawinya yang lemah. Namun makna hadits itu benar. Rasulullah shollallahu alaihi wasallam jika menjadi Imam tidaklah berada di ujung tapi di tengah. Jika Imam berada di tengah maka makmum yang berada di sebelah kanan akan mudah mengikuti dan mendengarkannya. Demikian juga yang di sebelah kanan. Berbeda dengan jika Imam di salah satu ujung. Maka ujung yang terjauh akan kesulitan dalam mendengar atau mengikuti gerakan Imam.
 
 
(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom