📗Sampai Batas Mana Makmum Harus Mengikuti Imam?

Dalam hal ini ada perbedaan pendapat para Ulama.

Syaikh al-Albaniy rahimahullah berpendapat bahwa makmum harus mengikuti Imam termasuk dlm melakukan gerakan-gerakan sunnah dalam sholat. Berdasarkan hadits:

انما جعل الامام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه

Hanyalah seseorang dijadikan Imam untuk diikuti, jangan berselisih dengannya(H.R al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan seseorang makmum yg mampu berdiri dalam sholat, padahal berdiri dlm sholat adalah rukun, diperintahkan oleh Nabi utk sholat duduk jika Imamnya duduk.

واذا صلى جالسا فصلوا جلوسا

dan jika (Imam) sholat duduk, maka sholatlah kalian (para makmum) dgn duduk (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan Syaikh Ibn Utsaimin dlm asySyarhul Mumti' merinci kewajiban mengikuti Imam itu  dalam hal yg menyebabkan makmum tidak ketinggalan gerakan Imam.

Sebagai contoh, jika Imam tidak menerapkan duduk istirahat (jilsah istirohah), maka makmum jangan menerapkan duduk istirahat karena hal itu akan menyebabkan makmum terlambat tidak segera menyusul gerakan Imam berdiri dalam sholat.

Tetapi dalam hal yg tidak menyebabkan makmum tertinggal gerakannya dari Imam, maka makmum boleh melakukan gerakan yg dianggapnya lebih tepat sesuai sunnah. Misalkan, saat di tahiyyat akhir sholat Subuh Imam duduk tawarruk, namun makmum menganggap yg lebih tepat adalah duduk iftirasy, maka silakan ia melakukannya karena hal itu tidak menyebabkannya tertinggal dari gerakan Imam.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom