💐📕TATA CARA MENSHOLATKAN JENAZAH

1. Jumlah takbir 4 kali, boleh lebih dari itu hingga 9 kali, terlebih untuk jenazah orang alim atau yang memiliki keutamaan dalam Islam. Namun yang masyhur adalah mencukupkan jumlah takbir hingga 4 kali.

2. Setelah takbiratul ihram, membaca alFatihah.

3. Mengangkat kedua tangan setiap kali takbir seperti yang dilakukan Sahabat Nabi Ibnu Umar.

4. Setelah takbir ke-2 membaca sholawat kepada Nabi, diutamakan sholawat yang diajarkan Nabi dalam tahiyyat sholat (Ibrahimiyyah).

5. Setelah takbir ke-3 membaca doa untuk kaum muslimin secara umum dan doa untuk mayit secara khusus sebagaimana bacaan yang diajarkan Nabi.

6. Setelah takbir ke-4 dan seterusnya boleh membaca doa untuk mayit lagi.

7. Mengucapkan salam dua kali (menoleh ke kanan dan kiri), dan boleh juga hanya sekali ke arah kanan saja.

8. Jika jenazahnya adalah laki-laki, Imam berdiri sejajar kepala. Jika jenazahnya perempuan, Imam berdiri di tengah jenazah.

Tatacara sholat jenazah secara ringkas dijelaskan dalam ucapan seorang Sahabat Nabi:

أَنَّ السُّنَّةَ في الصَّلَاةِ على الْجِنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الْإِمَامُ ثُمَّ يَقْرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى سِرًّا في نَفْسِهِ ثُمَّ يصلى على النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم وَيُخْلِصَ الدُّعَاءَ لِلْمَيِّتِ في التَّكْبِيرَاتِ لَا يَقْرَأَ في شَيْءٍ مِنْهُنَّ ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا في نَفْسِهِ

Sunnah dalam sholat jenazah adalah Imam bertakbir kemudian membaca alFatihah tidak dikeraskan setelah takbir pertama   kemudian bersholawat kepada Nabi (setelah takbir ke-2), dan mengikhlaskan doa untuk mayit setelah takbir-takbir (berikutnya), tidak membaca suatu surat (selain alFatihah) kemudian salam tidak dikeraskan (H.R asy-Syafi’i dalam al-Umm (1/270).

Sedangkan bacaan doa dalam sholat jenazah, disebutkan dalam sebagian hadits, di antaranya:

وَعَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ - رضي الله عنه - قَالَ: - صَلَّى رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - عَلَى جَنَازَةٍ، فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ: "اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ, وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ, وَاعْفُ عَنْهُ, وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ, وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ, وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ, وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اَلْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ, وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ, وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ, وَأَدْخِلْهُ اَلْجَنَّةَ, وَقِهِ فِتْنَةَ اَلْقَبْرِ وَعَذَابَ اَلنَّارِ - رَوَاهُ مُسْلِمٌ

dari Auf bin Malik radhiyallahu anhu : Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam sholat terhadap jenazah kemudian aku hafal dari doanya: Allahummaghfir lahuu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu waghsilhu bil maa-i wats-tsalji wal barod wa naqqihi minal khothooyaa kamaa naqqoytats tsaubal abyadho minad danats wa abdilhu daaron khoyron min daarihi wa ahlan khoyron min ahlihi wa adkhilhul jannata wa qihii fitnatal qobri wa ‘adzaaban naari(Ya Allah ampunilah dia, dan rahmatilah ia, dan berikan ia afiat, dan maafkan dia, mulyakan tempat tinggalnya, luaskan tempat masuknya, dan cucilah ia dengan air, salju,dan embun. dan bersihkan ia dari dosa sebagaimana terbersihkan kotoran putih dari noda. Dan gantikan kampung yang lebih baik dari kampungnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya. Masukkan ia ke dalam surga, dan lindungi dia dari fitnah kubur dan adzab neraka) (riwayat Muslim, melalui Bulughul Maraam).

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: - كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - إِذَا صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ يَقُولُ: "اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا, وَمَيِّتِنَا, وَشَاهِدِنَا, وَغَائِبِنَا, وَصَغِيرِنَا, وَكَبِيرِنَا, وَذَكَرِنَا, وَأُنْثَانَا, اَللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى اَلْإِسْلَامِ, وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اَلْإِيمَانِ, اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ, وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ - رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu ia berkata : Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam jika sholat jenazah berdoa: Allaahummaghfir li hayyinaa wa mayyitinaa wa syaahidinaa wa ghoo-ibinaa wa shoghiirinaa wa kabiirinaa wa dzakarinaa wa untsaanaa. Allaahumma man ahyaytahuu mina fa ahyihii ‘alal Islaam. Wa man tawaffaytahuu minnaa fatawaffahuu ‘alal iimaan. Allahumma laa tahrimnaa ajrohu wa laa tudhillanaa ba’dahu(Ya Allah, ampuni orang yang hidup di antara kami, orang yang meninggal, orang yang hadir, yang tidak hadir, anak kecil, orang dewasa, laki, maupun perempuan. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkan dalam Islam. Barangsiapa yang Engkau wafatkan, wafatkanlah dalam keimanan. Ya Allah janganlah Engkau haramkan untuk kami pahalanya, dan jangan Engkau sesatkan kami sepeninggalnya) (riwayat Muslim, melalui Bulughul Maram).
 

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom