💐📝KAJIAN TAFSIR SURAT AL-FIIL (Bag ke-2)

LANJUTAN KISAH ASH-HAABUL FIIL

Ketika sudah dekat dengan Thaif, keluarlah penduduk Tsaqif bersikap manis kepadanya karena takut (mereka berbuat buruk terhadap) suatu rumah yang di sisi mereka yang disebut al-Laat. Merekapun memulyakan Abrahah dan pasukannya serta mengurus Abu Righal sebagai penunjuk jalan. Ketika pasukan Abrahah telah tiba di al-Mughommas (sekitar 2 mil dekat dari Makkah, pent), ia turun dan pasukannya menyerang binatang ternak gembalaan penduduk Makkah berupa unta dan yang lainnya. Merekapun mengambilnya. Pada gembalaan tersebut terdapat 200 unta milik Abdul Muththolib. Orang yang menyerang gembalaan tersebut adalah pemimpin pasukan bagian depan yang disebut al-Aswad bin Mafshuud. Maka bangsa Arabpun mengejeknya –sebagaimana disebutkan Ibnu Ishaq-.

Abrahah pun mengutus Hunaathoh al-Himyari menuju Makkah. Abrahah memerintahkannya agar mendatangi pemuka-pemuka Quraisy dan mengkhabarkan kepada mereka bahwasanya raja tidaklah datang untuk memerangi kalian kecuali jika kalian menghalangi raja dari (menghancurkan) Ka’bah.
Maka datanglah Hunaathah dan ditunjukkan kepada Abdul Muththolib bin Hasyim dan disampaikan pesan Abrahah kepadanya. Maka Abdul Muththolib berkata: Demi Allah, kami tidak ingin memeranginya, dan kami tidak punya kekuatan untuk memeranginya. Ini adalah rumah Allah al-Haram, rumah kekasihNya Ibrahim. Jika Dia mencegahnya darinya maka itulah rumahNya dan kehormatanNya. Jika Dia membiarkan, maka demi Allah kami tidak punya kemampuan untuk mencegahnya. Maka Hunaathoh berkata kepadanya: Mari pergi bersamaku menuju Abrahah.

 Maka berangkatlah Abdul Muthholib bersama Hunaathoh menuju Abrahah.
Ketika Abrahah melihat Abdul Muththolib, ia merasa segan dan hormat. Abdul Muththolib adalah lelaki tampan yang baik penampilannya. Abrahah turun dari tempat tidurnya dan duduk bersamanya pada permadani. Ia berkata kepada penerjemahnya: Katakan kepadanya: Apa keperluanmu? Abdul Muththolib berkata kepada penerjemah itu: keperluanku adalah : hendaknya raja mengembalikan 200 unta milikku yang telah diambilnya. Abrahah berkata kepada penerjemahnya: katakan kepadanya: Aku sebelumnya takjub (segan) pada awal melihatmu, tapi perasaan hormatku berkurang setelah engkau berbicara. Apakah engkau berbicara (hanya) untuk 200 unta yang aku ambil darimu, dan meninggalkan Bait (Rumah) yang menjadi agamamu dan agama nenek moyangmu yang aku datang untuk menghancurkannya?! Engkau tidak membicarakan tentang itu denganku?
Abdul Muththolib berkata: Aku adalah pemilik unta, sedangkan rumah itu (Baitullah), ada pemiliknya sendiri yang akan mencegahnya! Abrahah mengatakan: Ia tidak akan mencegahnya dariku. Abdul Muththolib mengatakan: engkau dan itu (yang akan terjadi,pent).

Dikatakan bahwa sekelompok pembesar Quraisy bersama Abdul Muththolib pergi menawarkan sepertiga harta Tihaamah dengan imbalan agar pasukan Abrahah kembali pulang. Tapi Abrahah menolak. Abrahah mengembalikan unta-unta Abdul Muththolib. Abdul Muththolib kembali ke bangsa Quraisy dan menyuruh mereka keluar dari Makkah dan berlindung di puncak-puncak gunung, karena takut dari serangan pasukan tersebut.

📎📝 Kemudian Abdul Muththolib berdiri memegang lingkaran pada pintu Ka’bah dan sekelompok orang dari Quraisy juga berdiri bersamanya berdoa kepada Allah dan meminta pertolongan dari Abrahah dan pasukannya.
Abdul Muththolib berdoa dengan memegang lingkaran pintu Ka’bah:

لا هُمَّ إنَّ العَبْدَ يَمْ... نَعُ رَحْلَهُ فامْنَع حِلالكْ
لا يَغْلِبَنَّ صَلِيبُهُمْ... ومِحَالُهُمْ غَدْوا مِحَالكْ
Ya Allah (asal katanya dari Allahumma, pent), sesungguhnya seorang hamba mencegah (orang lain) dari rumahnya, maka cegahlah (dari) rumahMu…

Tidaklah akan menang salib mereka, dan siksa untuk mereka sebentar lagi karena kekuatanMu…

Ibnu Ishaq berkata: kemudian Abdul Muththolib melepaskan lingkaran pintu (Ka’bah) kemudian ia keluar menuju puncak gunung.
Muqotil bin Sulaiman menyebutkan bahwa mereka meninggalkan di sisi Baitullah seratus unta yang dikalungi. Harapannya agar sebagian pasukan menyentuh sebagian unta itu tanpa haq hingga Allah membalasnya.

Pada pagi harinya, Abrahah telah bersiap menuju Makkah. Ia mempersiapkan gajahnya yang bernama Mahmud. Ia juga mempersiapkan pasukannya. Ketika ia mengarahkan gajah itu menuju Makkah, Nufail bin Habiib datang hingga berdiri di samping gajah kemudian memegang telinga gajah itu. Ia berkata: Berderumlah (duduklah) wahai Mahmud dan kembalilah ke arah engkau datang, karena engkau berada di negeri Allah al-Haram (yang mulya). Kemudian ia melepaskan telinga gajah itu. Maka duduklah gajah itu. Kemudian keluarlah Nufail bin Habiib hingga naik ke gunung.
Pasukan Abrahah memukul gajah itu supaya bangkit tapi gajah itu enggan. Mereka memukul kepalanya dengan kapak perang, kemudian memasukkan pengaitnya pada bagian bawah perutnya kemudian mengiriskannya agar ia mau berdiri, tapi gajah itu tetap enggan. Ketika diarahkan menuju Yaman, gajah itu bangkit berlari. Ketika diarahkan menuju Syam, demikian juga (bangkit berlari). Jika diarahkan ke timur, demikian juga. Tapi ketika diarahkan ke Makkah, ia duduk.

Kemudian Allah kirim burung dari laut, bagaikan besi yang berkait dan burung tiung (burung kecil yang bergerombol terbangnya terarah bagaikan badai, pent). Setiap burung membawa 3 batu. Satu batu di paruhnya dan 2 batu masing-masing di kakinya. Batu itu bagaikan sejenis kacang dan adas. Tidaklah menimpa seseorang kecuali ia binasa. Tidak semuanya yang terkena lemparan batu itu. Yang lain lari menyelamatkan diri mencari jalan. Mereka bertanya di mana Nufail, untuk menunjukkan kepada mereka jalannya. Sedangkan Nufail berada di puncak gunung bersama Quraisy dan orang-orang Arab Hijaz. Mereka melihat apa yang Allah turunkan kepada pasukan bergajah berupa bencana.

Nufail kemudian berkata:

أينَ المَفَرُّ والإلهُ الطالب والأشرمُ المغلوبُ غير الغالب

Ke mana mereka akan lari? (jika) Al-Ilah (sesembahan) yang mencari sedangkan al-Asyram (Abrahah) terkalahkan, tidaklah menang
(diterjemahkan dari Tafsir Ibnu Katsir juz 8 halaman 378-380 cetakan al-Maktabah atTaufiqiyyah)

Dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthuby bahwa mereka semua akhirnya binasa tak ada yang hidup.

Kisah yang disampaikan oleh seorang Ulama’ Syafiiyyah ahli Tarikh (sejarah), Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitab Tafsir karyanya tersebut memberikan kepada kita beberapa pelajaran penting:

Pertama, Pada masa Jahiliyyah dalam kondisi musyrik, orang-orang Quraisy sangat mengenal Allah dan mengagungkanNya. Bahkan Abdul Muththolib masih berdoa memohon pertolongan kepada Allah dari pasukan bergajah itu. Sikap Abdul Muththolib tersebut diikuti oleh sekelompok orang Quraisy yang lain yang juga ikut berdoa kepada Allah. Abdul Muththolib masih mengagungkan Baitullah (Rumah Allah) Ka’bah dan ia yakin bahwa Allah akan melindungi Rumah-Nya. Demikian juga Nufail menganggap Allah sebagai al-Ilaah (sesembahan) dalam bait syairnya.

Padahal agama Abdul Muththolib bertolak belakang dengan dakwah Laa Ilaaha Illallah. Agama Abdul Muththolib memang menyembah Allah, namun tidak murni hanya beribadah kepada Allah. Mereka beribadah kepada berhala-berhala dengan keyakinan bahwa berhala-berhala itu akan mendekatkan mereka kepada Allah.

...وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

...dan orang-orang yang menjadikan selain-Nya sebagai penolong (sesembahan), (mereka berkata) kami tidaklah menyembah mereka kecuali agar mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya (Q.S az-Zumar ayat 3)

Dalil yang menunjukkan bahwa agama Abdul Muththolib bertolak belakang dengan dakwah Laa Ilaaha Illallaah yang dibawa Nabi adalah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim yang menceritakan saat-saat terakhir sebelum meninggalnya Abu Tholib (anak Abdul Muththolib yang juga paman Nabi). Di samping Abu Tholib berdiri beberapa orang, yaitu Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam yang mengajak pada ucapan Laa Ilaaha Illallah, sedangkan di kubu yang lain berdiri Abu Jahl dan Abu Umayyah bin al-Mughiroh yang mengajak untuk tetap tidak berpindah dari agama Abdul Muththolib.

Silakan disimak hadits berikut:

لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Ketika Abu Tholib menjelang wafat datanglah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kemudian beliau mendapati di sisi Abu Tholib ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah bin al-Mughiroh. Maka Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berkata: Wahai pamanku, ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah, suatu kalimat yang aku akan bersaksi untukmu nanti di sisi Allah. Kemudian Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: Wahai Abu Tholib, apakah engkau benci agama Abdul Muththolib?! Terus menerus Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengajak mengucapkan ucapan itu dan mengulanginya hingga akhir ucapan Abu Tholib adalah ia tetap berada di atas agama Abdul Muththolib dan enggan mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah ((H.R al-Bukhari dan Muslim dari Said bin al-Musayyib dari ayahnya)

(bersambung, InsyaAllah….)

<< Materi Kajian Ummahat Tafsir Juz Amma di Kompleks Ma’had al-I’tishom bissunnah Sumberlele Kraksaan Setiap Sabtu Sebelum Dzhuhur >>

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom