💐📕Tarawih dan Witir

❓Pertanyaan:

1. Apabila kita menjadi Imam tarawih dan makmumnya hanya istri seorang, lalu di tengah-tengah sholat bayinya menangis sehingga si makmum (istri) meninggalkan sholat. Apakah bacaan Imam tetap dibaca jahr? Jika dibaca sirr, apakah ketika istri kembali menjadi makmum bacaan kembali menjadi jahr?

2. Mana yang utama bagi Imam membaca surat pendek yang ia hafal ataukah membaca dari awal juz dg membawa mushaf?

3. Apakah termasuk sunnah mengkhususkan muawwidzatain dalam sholat witir?

✅ Jawaban:

1. Sholat tarawih adalah termasuk sholat malam. Bagi orang yang sholat sendirian dalam sholat malam, ia ada pilihan untuk mengeraskan bacaan (jahr) atau melirihkan bacaan (sir). Kedua-duanya boleh dilakukan. Sebagaimana Rasulullah shollallahu alaihi wasallam kadang mengeraskan bacaan, kadang tidak mengeraskan bacaannya dalam sholat malam sendirian.

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمُرَ ، قَالَ : سَأَلْنَا عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَرْفَعُ صَوْتَهُ مِنَ اللَّيْلِ إِذَا قَرَأَ ؟ قَالَتْ : رُبَّمَا رَفَعَ وَرُبَّمَا خَفَضَ ، قَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الدِّينِ سَعَةً

Dari Yahya bin Ya’mur beliau berkata: Kami bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha : Apakah Rasulullah shollalahu alaihi wasallam mengeraskan suaranya pada waktu malam ketika membaca (al-Quran)? Aisyah berkata: Kadang beliau mengeraskan kadang merendahkan. (Yahya bin Ya’mur) berkata: segala puji bagi Allah yang telah menjadikan bagi agama ini kelapangan (H.R Ahmad, dinyatakan sanadnya terpercaya oleh al-Bushiry)

Jika sholat malam berjamaah, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam mengeraskan bacaan agar bisa didengar oleh makmum. Seperti ketika beliau sholat bersama Hudzaifah yang membaca surat alBaqoroh, AnNisaa’ dan Ali Imran dalam satu rokaat (hadits riwayat Muslim).

Karena itu, dalam sholat malam, saat di tengah sholat satu-satunya makmum keluar dari sholat, maka Imam ada pilihan untuk tetap mengeraskan ataupun melirihkan suaranya. Keduanya ada kelapangan untuk dipilih. Saat makmum kembali bergabung, Imam mengeraskan bacaan.

2. Secara asal, seseorang dalam sholat membaca bacaan al-Quran yang dihafalnya.

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآَنِ

Bacalah yang mudah (bagimu) dari al-Quran…(Q.S al-Muzammil: 20)

Namun, khusus pada sholat malam, disunnahkan untuk memperpanjang bacaan. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan.
Semakin banyak bacaan yang dibaca dalam sholat malam, semakin besar pahalanya:

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِينَ وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

Barangsiapa yang qiyaamul lail dengan membaca 10 ayat, ia tidak tercatat sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang qiyaamul lail dengan membaca 100 ayat tercatat sebagai orang yang tunduk taat. Barangsiapa yang qiyaamul lail dengan 1000 ayat, tercatat sebagai seorang yang mendapatkan pahala berlimpah (H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan al-Albany)

Jika seseorang ingin mendapatkan limpahan pahala yang banyak tersebut dalam sholat malam saat ia sholat sendirian atau menjadi Imam, namun hafalannya sedikit, ia boleh membaca mushaf dalam sholat. Sebagaimana hal ini pernah terjadi di masa Sahabat Nabi:

عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ : أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَانَ يَؤُمُّهَا غُلاَمُهَا ذكْوَانُ فِي الْمُصْحَفِ فِي رَمَضَانَ

Dari Ibnu Abi Mulaikah bahwasanya Aisyah radhiyallahu anha pernah sholat bermakmum kepada budaknya (yang bernama) Dzakwan dengan membaca dari Mushaf pada bulan Ramadhan (H.R al-Baihaqy, dinyatakan sanadnya shahih oleh al-Imam anNawawy dalam Khulaashotul Ahkaam fi Muhimmatis Sunan wa Qowaaid (1/500)).

Namun, jika seseorang menjadi Imam dalam sholat malam (termasuk tarawih di bulan Ramadhan) hendaknya ia juga memperhatikan keadaan makmum. Jangan terlalu memperpanjang bacaan jika makmum merasa memberatkan. Kecuali jika makmum senang dengan hal tersebut, maka silakan memperpanjang bacaan.

3. Sebutan al-Muawwidzatain adalah untuk surat alFalaq dan anNaas. Kadangkala penyebutan itu juga termasuk dengan surat al-Ikhlas. Namun, secara bahasa, al-Muawwidzatain adalah untuk dua surat yang mengandung permohonan perlindungan kepada Allah (yaitu surat alFalaq dan anNaas).

Dalam sholat witir yang 3 rokaat, pada rokaat pertama disunnahkan membaca surat al-A’laa (Sabbihisma Robbikal a’la). Rokaat kedua membaca al-Kaafiruun. Rokaat ketiga bisa membaca al-Ikhlash saja, bisa juga ditambah alFalaq dan anNaas setelah membaca al-Ikhlash.

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Dari Ubay bin Ka’ab –radhiyallahu anhu- beliau berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwitir dengan Sabbihisma Robbikal A’la, Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, dan Qul huwallaahu Ahad (H.R anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim dan al-Albany)

عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَانَ يُوْتِرُ بِثَلاَثٍ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ الْأُوْلَى بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَى وَ فِي الثَّانِيَةِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ وَ فِي الثَّالِثَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Dari Aisyah –radhiyallahu anha- bahwa Rasulullah shollallahu alaihi wasallam berwitir dengan 3 rokaat. Pada rokaat pertama membaca Sabbihisma Robbikal A’laa, pada rokaat kedua membaca Qul Yaa Ayyuhal Kaafiruun, dan di rokaat ketiga membaca Qul huwallahu Ahad, Qul A’udzu bi robbil falaq, dan qul A’udzu bi robbin Naas (H.R al-Hakim, dishahihkan olehnya dan disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby dan dinyatakan sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim)

Sebagian Ulama’ menganggap bahwa tambahan al-Muawwidzatain setelah al-Ikhlash adalah tambahan yang munkar karena diriwayatkan dari jalur yang lemah. Sebagaimana pendapat al-Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in (dinukil oleh Ibnul Jauzi).

Memang sebagian jalur riwayat yang melalui perawi al-Khushaif dari Abdul Aziz bin Juraij adalah riwayat yang lemah karena 2 hal: lemahnya perawi al-Khushaif dan Abdul Aziz bin Juraij tidak pernah bertemu dengan Aisyah. Jalur riwayat ini sebagaimana dalam Sunan Abi Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad.

Namun, jalur yang lain ada yang shahih, seperti yang disebutkan di atas, yaitu riwayat al-Hakim. Karena itu sebagian Ulama lain seperti adz-Dzahaby dan al-Albany menganggap bahwa tambahan al-Muawwidzatain adalah shahih.

Sehingga termasuk sunnah Nabi, pada rokaat ketiga witir membaca al-Ikhlash saja atau al-Ikhlas ditambah al-Falaq dan anNaas. Kedua-duanya sesuai sunnah yang shahih.

Demikian juga tidak mengapa jika membaca selain surat itu.

Wallaahu A’lam.

(Abu Utsman Kharisman)

💡💡📝📝💡💡

WA al-I'tishom