((((✏️📖📚))))))

HAKIKAT TAWAKKAL & CONTOH-CONTOHNYA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sesungguhnya manusia apabila mengesakan Allah Ta'ala dengan tawakkal maka berarti dia bersandar kepada-Nya dalam mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan dalam menghilangkan apa-apa yang tidak disukai, dan dia tidak bersandar kepada selain-Nya.

Sedangkan tawakkal itu sendiri adalah penyandaran kepada Allah Ta'ala dalam mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan dalam menolak apa-apa yang tidak disukai, bersamaan adanya ketsiqahan/kepercayaan kepada-Nya dan melakukan sebab-sebab yang diperbolehkan padanya, dan inilah definisi tawakkal yang paling dekat. Sehingga mesti adanya dua perkara:

✔️yang pertama: bersandar kepada Allah dengan penyandaran yang jujur dan hakiki.

✔️Kedua: melakukan sebab-sebab yang dibolehkan padanya.

Maka barangsiapa yang menjadikan penyandarannya kepada sebab-sebab itu lebih banyak maka berkuranglah tawakkalnya kepada Allah, dan jadilah dia orang yang menodai dalam masalah pencukupan Allah (terhadap hamba-Nya), maka seakan-akan dia menjadikan sebab semata (tanpa tawakkal-pent) yaitu bersandar terhadap apa-apa yang dia condong kepadanya dari mendapatkan hal-hal yang diinginkan dan menghilangkan hal-hal yang tidak disukai.

Dan sebaliknya barangsiapa yang menjadikan penyandarannya kepada Allah tetapi melalaikan/tidak mengambil sebab-sebab, maka sungguh dia telah mencela dalam masalah hikmahnya Allah, karena sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi segala sesuatu itu ada sebabnya, maka barangsiapa yang bersandar kepada Allah dengan penyandaran semata, maka dia adalah orang yang menodai dalam masalah hikmahnya Allah, karena sesungguhnya Allah adalah Hakim, yang mengaitkan sebab-sebab dengan akibat-akibatnya. Contohnya seperti orang yang bersandar/tawakkal kepada Allah dalam mendapatkan anak tetapi dia tidak menikah, dan contoh lainnya sangat banyak.

Sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri adalah orang yang paling bertawakkal di antara orang-orang yang bertawakkal, akan tetapi bersamaan dengan itu beliau tetap mengambil sebab-sebab. Maka ketika safar beliau membawa bekal, dan ketika keluar ke Uhud (untuk perang) beliau memakai dua baju besi (HR. Abu Dawud no.2590). Dan ketika keluar untuk hijrah (ke Madinah) beliau mengambil seseorang untuk menunjukkan jalan (HR. Al-Bukhari no.2263), dan beliau tidak mengatakan: "Saya akan pergi berhijrah dan bertawakkal kepada Allah serta saya tidak akan ditemani oleh orang yang akan menunjukiku jalan." Beliau juga berlindung dari panas dan dingin, akan tetapi semuanya itu tidaklah mengurangi tawakkalnya.

Pernah disebutkan kepada 'Umar bahwasanya ada sekelompok manusia dari penduduk Yaman datang untuk berhaji tetapi tidak membawa bekal, maka mereka didatangkan kepada 'Umar, lalu 'Umar menanyai mereka, maka mereka pun menjawab: "Kami adalah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah." Maka 'Umar pun membantah: "Kalian bukan orang-orang yang bertawakkal, bahkan kalian adalah orang-orang yang pura-pura bertawakkal."

👆Dikutip dari Buletin Al-Wala' Wal-Bara' Edisi ke-2 Tahun ke-3 / 03 Desember 2004 M / 20 Syawwal 1425 H


〰〰〰〰〰〰〰〰
📚 WA Salafy Kendari 📡